abiquinsa: Memahami Hadits Nabi yang Tekstual dan Kontekstual

Memahami Hadits Nabi yang Tekstual dan Kontekstual



MEMAHAMI HADITS NABI
YANG TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL

Oleh: Rofi'udin, S.Th.I, M.Pd.I

A.     Jawami’ al-Kalim
  1. Kemampuan Nabi Mengemukakan Jawami’al-Kalim
“Saya dibangkit (oleh Allah) dengan (kemampuan untuk menyatakan) ungkapan-ungkapan yang singkat, namun padat makna.“ (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya dari Abu Hurairah)
  1. Perang itu Siasat
“Perang itu siasat.“ (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya dari Jabir bin Abd Allah)
Pemahaman terhadap petunjuk hadits tersebut sejalan dengan bunyi teksnya, yakni bahwa setiap perang pastilah memakai siasat.
B.      Bahasa Tamsil
  1. Persaudaraan Atas Dasar Iman
“Orang yang beriman terhadap orang yang beriman lainnya ibarat bangunan; bagian yang satu memperkokoh terhadap bagian lainnya.“ (HR. Bukhari, Muslim, dan al-Turmudzi dari Abu Musa al-Asy’ari)
Hadits Nabi tersebut mengemukakan tamsil bagi orang-orang yang beriman sebagai bangunan. Tamsil tersebut sangat logis dan berlaku tanpa terikat oleh waktu dan tempat sebab setiap bangunan pastilah bagian-bagiannya berfungsi memperkokoh bagian-bagian yang lain.
  1. Kembali dari Haji Seperti Bayi
“Barangsiapa melaksanakan ibadah haji karena Allah semata, lalu (selama melaksanakan haji itu) dia tidak melakukan pelanggaran seksual dan tidak berbuat fasik, niscaya dia kembali (dalam keadaan bersih dari dosa dan kesalahan) seperti pada hari dia dilahirkan oleh ibunya.“ (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya dari Abu Hurairah)
Secara tekstual, hadits tersebut mengibaratkan orang yang berhasil menunaikan ibadah haji sebagai hari yang dia baru saja dilahirkan oleh ibunya. Pemahaman kontekstualnya ialah bahwa bagi orang yang berhasil menunaikan ibadah haji, maka dia diampuni segala dosanya dan dimaafkan segala kesalahannya oleh Allah, sehingga dia seperti tatkala baru dilahirkan ibunya.

C.      Ungkapan Simbolik
  1. Dajjal
(Hadits riwayat) dari Abd Allah bin Umar bahwa Rasulullah saw menyebut al-Masih al-Dajjal di muka orang banyak. Kemudian beliau bersabda “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak buta sebelah mata. Ketahuilah, sesungguhnya al-Masih al-Dajjal itu buta matanya sebelah kanan, sedangkan matanya seperti buah anggur yang timbul.“ (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Pernyataan bahwa Allah tidak buta sebelah mata adalah ungkapan simbolik. Ungkapan tersebut dapat dimaksudkan sebagai kekuasaan. Dan bahwa Dajjal “buta matanya sebelah kanan“ adalah berarti juga buta diri Dajjal sendiri. Pemahaman kontekstualnya adalah bahwa Dajjal adalah suatu keadaan yang timpang, para penguasa yang zalim, dan berbagai bentuk kemaksiatan melanda di mana-mana.
  1. Ususnya Orang Mukmin dan Orang Kafir
“Orang yang beriman itu akan makan dengan satu usus (perut), sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.“ (HR. Bukhari, al-Turmudzi, dan Ahmad dari Ibnu Umar)
Pemahaman konteksualnya adalah bahwa terjadi perbedaan pandangan atas rezeki yang dinikmati. Orang mukmin menganggap makanan bukan sebagai tujuan hidup, sedangkan orang kafir menganggapnya sebagai bagian dari tujuan hidup.
D.     Bahasa Percakapan
  1. Amalan yang Utama
“Mereka (para sahabat Nabi) bertanya: Ya Rasulullah, amalan Islam yang manakah yang lebih utama“. Beliau menjawab “(Yaitu) orang-orang yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) mulutnya dan tangannya.“ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asya’ri)
Tidak sedikit hadits-hadits Nabi yang berbicara tentang keutamaan suatu amal. Dan Nabi selalu menyesuaikan dengan keadaan lawan bicaranya. Maka, sering dijumpai beberapa hadits yang berbeda tentang suatu amalan yang paling utama.
  1. Kata Kunci tentang Islam
“(Hadits riwayat) dari Sufyan bin Abd Allah al-Tsaqafi, dia berkata: “Saya bertanya, “Ya Rasulullah, katakanlah kepada saya sebuah pernyataan tentang Islam (sehingga) saya tidak lagi perlu bertanya kepada orang lain sesudah Anda (dalam hadits riwayat Abu Usamah dinyatakan: selain Anda).“ Beliau menjawab: “Katakanlah: “Saya beriman kepada lalu Allah, lalu berpegang teguhlah kamu (dengan pernyataanmu itu)!“ (HR. Muslim dan Ahmad)
Adapun hadits ini merupakan kata kunci untuk menunjukkan suatu amalan yang paling utama. Yakni ketika sudah menyatakan beriman kepada Allah, maka harus konsisten atau istiqomah dengan imannya itu.

E.      Ungkapan Analogi
  1. Warna Kulit Anak dan Ayahnya
Ada seorang laki-laki dari Bani Fazarah mengadu kepada Nabi. Dia berkata: “sesungguhnya istri saya telah melahirkan seorang anak laki-laki, kulitnya hitam. Saya menyangkalnya karena kulitnya berbeda sekali dengan kulit saya.“ Lalu terjadilah dialog antara Nabi dan orang tersebut sebagai berikut:
“Beliau (Nabi) bertanya: “Apakah kamu mempunyai unta?“ Orang itu menjawab: “Ya.“ Beliau bertanya lagi: “Apa warna untamu itu? Dia menjawab: “Merah.“ Beliau bertanya lagi: “Apakah (mungkin untamu itu) dari (keturunan unta) yang berkulit abu-abu?“ Dia menjawab: “Sesungguhnya (dapat saja) unta itu berasal dari (unta yang) berkulit abu-abu.“ Beliau bersabda: “Maka sesungguhnya saya menduga juga (bahwa unta merahmu itu) datang (berasal) darinya (unta yang berkulit abu-abu tersebut). “Orang itu berkata: “Ya Rasulullah, keturunan (unta merahku itu) berasal darinya (unta yang berkulit abu-abu tersebut).“ Nabi lalu menyatakan: “(Masalah anakmu yang berkulit hitam itu) semoga berasal juga dari keturunan (nenek moyang)nya; dan (nenek moyang anakmu yang kulitnya hitam) tidaklah menurunkan keturunan yang menghilangkan (tanda-tanda keturunan) darinya.“ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Matan hadits tersebut berbentuk ungkapan analogi bahwa ada kesamaan antara ras yang diturunkan oleh manusia dan unta. Terjadinya perbedaan warna kulit antara anak dan ayah dapat disebabkan oleh warna kulit dari nenek moyang bagi anak tersebut. Ketentuan demikian bersifat universal.
  1. Penyaluran Hasrat Seksual yang Bernilai Sedekah
“Bagaimanakah pendapatmu sekiranya hasrat seksual (seseorang) disalurkannya di jalan yang haram, apakah (dia) menanggung dosa? Maka demikinlah, bila hasrat seksual disalurkan ke jalan yang halal, dia mendapat pahala.“ (HR. Muslim dari Abu Dzar)
Matan hadits di atas dalam bentuk ungkapan analogi bahwa penyaluran hasrat seksual yang haram bernilai dosa, demikian sebaliknya jika disalurkan secara halal maka bernilai pahala. Ini merupakan ajaran Islam yang bersifat universal.

Share This Article


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar