abiquinsa: Oktober 2010

Takhrij al-Hadits dan I'tibar al-Sanad


TAKHRIJ AL-HADITS DAN I’TIBAR AL-SANAD

Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I


Dalam struktur hierarki sumber hukum Islam, hadits (sunnah) bagi umat Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an karena, disamping sebagai ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan menaati Rasulullah SAW, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan al-Qur’an yang mujmal, muthlaq, ‘amm dan sebagainya.[1]

Peran Bahasa Arab dalam Kehidupan Muslim


PERAN BAHASA ARAB DALAM KEHIDUPAN MUSLIM
Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

Bahasa Arab mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan Muslim di berbagai belahan dunia. Isma’il dan Lois Lamya al-Faruqi secara tepat menggambarkan fenomena ini sebagai berikut:

Qira'ah dalam Ulumul Qur'an


QIRA’AH DALAM ULUMUL QUR’AN
Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

Bangsa Arab merupakan komunitas terbesar dengan berbagai suku termaktub didalamnya. Setiap suku memiliki dialek (lahjah) yang khusus dan berbeda dengan suku-suku lainnya. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan kondisi alam, seperti letak geografis dan sosio-kultural pada masing-masing suku. Laiknya Indonesia yang memiliki bahasa persatuan, maka bangsa Arab pun demikian. Mereka menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa bersama (common language) dalam berkomunikasi, berniaga, mengunjungi ka’bah, dan melakukan bentuk-bentuk interaksi lainnya. Dari kenyataan di atas, sebenarnya kita dapat memahami alasan al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Quraisy.

Pemikiran Teologi Islam


PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM


Dalam berbagai literatur, yang secara khusus berbicara tentang ilmu kalam atau teologi, sering ditemukan pembahasannya lebih diarahkan kepada adanya pertentangan-pertentangan antara satu aliran teologi dalam Islam dengan aliran yang lainya. Pembahasan yang demikian memang tidak salah, bahkan benar adanya. Sebab, ditilik dari sejarahnya perkembangan teologi dalam Islam memang demikianlah adanya. Namun demikian, dalam konteks sekarang ini, pembahasan dan pemaknaan yang demikian itu sudah tidak relevan lagi. Disamping pemaknaan yang demikian ini tidak mengusung ide-ide pembebasan juga sangat statis dan rigid, bahkan sangat komunal dan menindas.

Metode Kritik Transendental Immanuel Kant (1724-1804)


METODE KRITIK TRANSENDENTAL IMMANUEL KANT (1724-1804)
Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

Munculnya rasionalisme dan empirisme menjadi indikator lahirnya periode modern dalam alam pikiran Barat. Masing-masing ingin menang sendiri, rasionalisme meragukan semua pandangan empirisme. Demikian juga sebaliknya, empirisme memandang rasionalisme penuh dengan subyektivitas dan sangat personalistik.
Download