abiquinsa: Sejarah Teks Al-Qur'an

Sejarah Teks Al-Qur'an

Prof. Dr. M. Mustafa Al-'Azami

The History of The Qur'anic Text
(From Revelation to Compilation)

Sejarah Teks Al-Qur’an
(Dari Wahyu Sampai Kompilasi)

Chapter 1 – 3 of 20

Download


BAB 1 :
PENDAHULUAN



“Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. "1

Petunjuk, Kesenangan dan Keindahan. Bagi seorang yang beriman Kitab Suci Al-Qur'an akan melebihi segalanya: denyut keimanan, kenangan di saat mengalami kegembiraan dan penderitaan, sumber realitas ilmiah yang tepat, gaya lirik yang indah, khazanah kebijaksanaan serta munajat. Ayat-ayatnya menghiasi mulai dinding toko buku hingga ruang tamu, terukir dalam ingatan tua dan muda, serta gaungya terdengar di keheningan malam dari atas menara masjid di seluruh dunia. Namun demikian, Sir William Muir (1819-1905) tetap memberi pernyataan, "Islam sebagai musuh peradaban, kebebasan, clan kebenaran seperti dunia telah mengakuinya."2 Tak ada manusia lain yang ber¬sikap toleransi kecuali menebar rasa benci dan curiga terhadap A1-Qur'an sejak abad-abad silam hingga kini seperti dilakukan oleh para ilmuwan, penginjil, hingga para politikus musiman. Dikotomi seperti itu sangat menyakitkan hati umat Islam dan juga membingungkan kalangan non-Muslim yang pada giliran¬nya akan membenarkan anggapan bahwa setiap kelompok akan menghina kitab suci orang lain. Di mana bukti dan faktanya? Dihadapkan pada pokok pembicaraan yang teramat luas lagi sensitif dan penuh pemikiran yang perlu pertimbangan, saya menjelajah ke mana-mana yang pada mulanya, kemudian membuahkan hasil, berawal dari sebuah artikel yang ditulis oleh seseorang yang namanya tak pernah saya dengar sebelumnya.

Apakah Al-Qur'an itu? Artikel utama terbitan Januari 1999 yang dimuat di Atlantic Monthly, mengangkat asal usul keaslian dan integritas Al-Qur'an.3 Kualifkasi pengarang, Toby Lester, seluruhnya seperti tertulis dalam majalah memberi isyarat bahwa la tidak belajar Islam kecuali dari pengala:nan selama tinggal di Yaman dan Palestina beberapa tahun kendati hal ini tidak me¬nunjukkan tanda-tanda untuk menghalangi karena tampaknya ia belajar sungguh-sungguh dalam membuat perdebatan. la mengatakan,
Keilmuan Barat tentang Al-Qur'an biasanya terjadi dalam bentuk pernyataan permusuhan secara terbuka antara Kristen dan Islam. Ilmuwan Kristen dan Yahudi khususnya menganggap Kitab Suci Al-Qur'an ada dalam lingkaran perubahan...4
Setelah mengupas kecaman William Muir terhadap Al-Qur'an, T. Lester, menjelaskan bahwa dulu para ilmuwan Soviet melihat Islam berdasarkan sikap keragu-raguan ideologi. N.A. Morozov misalnya, dengan mudah memberi alasan bahwa "hingga masa Perang Salib tidak dapat dibedakan dengan agama Yahudi dan hanya setelah masa itu ia memiliki ciri khas tersendiri sedang Muhammad dan para Khalifah pertama tidak lebih dari tokoh dalam cerita bohong."5
Pendapat ini dapat memberi isyarat pada pihak lain bahwa pendekatan yang dilakukan T. Lester karena semata-mata akademik: suatu keingintahuan seorang wartawan dalam memberi laporan secara jujur. Dalam satu wawancara dengan harian ash-Sharq al-Awsat 6 ia menolak anggapan akan adanya niat jahat, perasaan marah, perilaku salah terhadap umat Islam dan bahkan bersikeras ingin mencari kebenaran. Tetapi tak bisa dimungkiri bahwa ia telah menguras tenaga dalam mengumpulkan sumber informasi dari kelompok yang antitradisi dan menyeru perlunya penafsiran ulang terhadap Kitab Suci umat Islam. Secara jelas ia mengutip pendapat Dr. Gerd R. Joseph Puin, perihal pemulihan kepingan kertas kulit naskah Kitab Al-Qur'an yang terdapat di San'a', Yaman, yang saya lihat baru-baru ini di mana la dan kelompoknya pantas mendapat acungan jempol. Sekarang, seorang pekerja penjilidan buku yang dapat melakukan tugasnya dengan balk tentang matematika yang teramat kompleks, tidak secara otomatis sama derajatnya dengan pakar matematika karena jasanya dalam tnengatur halaman-halaman yang ada. Di sini J. Puin dikelompokkan sebagai ahli tentang sejarah Al-Qur'an secara keseluruhan,
"Begitu banyak kaum Muslimin beranggapan bahwa Al-Qur'an merupakan kata-kata Tuhan yang tidak pernah mengalami perubahan," begitu kata Dr. Puin. "Mereka sengaja mengutip karya naskah yang menunjukkan bahwa Bible memiliki sejarah dan tidak langsung turun dari langit, namun hingga sekarang AI-Qur'an berada di luar konteks pembicaraan ini. Satu-satunya cara menggempur dinding penghalang ini adalah mengadakan pembuktian bahwa Qur'an juga memiliki sejarah. Beberapa kepingan kertas kulit yang ada di San'a akan dapat membantu upaya ini."7
Referensi lain yang digunakan T. Lester adalah Andrew Rippin, seorang profesor di bidang kajian agama-agama dari Universitas Calgary yang menjelaskan,
"Bacaan yang berlainan dan susunan ayat-ayat kesemuanya teramat penting. Semua orang sependapat akan masalah ini. Naskah-naskah ini menyebut bahwa sejarah teks Al-Qur'an di masa lampau melebihi dari sebuah pertanyaan terbuka dari apa yang lazim dianggap orang banyak: teks itu tidak tetap dan memiliki kekurangan otoritas dari anggapan yang ada. "8
Secara pribadi saya melihat pendapat Prof. Rippin sangat membingungkan. Di satu sisi sejak masa Nabi Muhammad, para sahabat mengakui adanya perbedaan bacaan. Sangat tidak beralasan untuk dikatakan sebagai penemuan baru. Di sisi lain, bukan Puin sekali pun (sejauh yang saya pahami) beranggapan telah menyingkap perbedaan-perbedaan susunan ayat Al-Qur'an dalam naskah, kendati pendapatnya tentang Al-Qur'an sejalan dengan aliran revisi modern yang mengatakan,
"Pemikiran saya adalah bahwa Al-Qur'an tidak lebih dari naskah cocktail yang tidak semuanya dapat dipahami di zaman Nabi Muhammad sekalipun." Begitu kata Puin. "Banyak di antaranya yang mungkin seratus tahun lebih tua dari Islam itu sendiri. Kendati dalam tradisi ke¬ islaman terdapat informasi silang yang amat besar, termasuk dasar agama Kristen; seseorang dapat menyerap seluruh antisejarah Islam dari mereka jika ia menghendaki." Patricia Crone memberi pembelaan tujuan-tujuan pemikiran seperti ini. "Al-Qur'an tak ubahnya sebagai satc kitab suci dengan satu sejarah seperti agama lain-hanya saja kita tidak memahami sejarah ini dan cenderung ingin membangkitkan teriakan protes saat kita mengkajinya.' 9
Kalangan orang Arab selalu beranggapan bahwa Al-Qur'an sebagai kitab yang memiliki keunikan lagi indah sampai para penyembah berhala di kota Mekah merasa haru melihat susunan liriknya dan mereka tidak mampu menciptakan seperti itu.10 Mutu seperti ini tidak dapat menghalangi orang-orang seperti Puin melempar penghinaan seperti itu.
"Al-Qur'an menyatakan bahwa ini adalah 'mubeen', atau 'jelas'," katanya. "Tetapi jika Anda perhatikan, Anda akan catat bahwa tiap lima kalimat atau yang sederhana saja tidak dapat dimengerti. Tentunya orang¬orang Islam dan juga sebagian orientalis berkata lain, tetapi fakta menunjukkan bahwa seperlima Al-Qur'an tidak dapat dipahami."11
G.R. Puin mengumbar ucapannya tanpa memberi contoh dan saya telah kehabisan langkah dalam melacaknya di mana letak seperlima Al-Qur' an yang tidak dapat dimengerti. Lebih lanjut ia menyebut bahwa kesediaan menerima pemahaman seperti itu bermula secara sungguh-sungguh pada abad kedua puluh.12 la merujuk pada tulisan Patricia Crone dengan mengutip pendapat R.S. Humphreys,13 yang kemudian diakhiri dengan pendapat Wansbrough. Serangan utama dari tulisan Wansbrough ingin menciptakan pendapat tentang dua masalah penting. Pertama, Al-Qur'an dan hadith disebabkan oleh berbagai pengaruh komunitas lebih dari dua abad. Kedua, doktrin ajaran Islam mengikuti cara pemimpin agama Yahudi. Tampaknya Puin sedang membaca kembali karyanya di saat sekarang, karena teorinya berkembang begitu lambat dalam kalangan terbatas di mana "umat Islam melihatnya sebagai sikap penyerangan yang menyakitkan."14 Para pembaca tentu mengenal siapa Cook, Crone dan Wansbrough sejak seperempat abad, wajah baru muncul dari kalangan ini adalah Dr. Puin, yang penemuannya dijadikan rujukan utama dalam karya Lester yang begitu panjang. Beberapa naskah Al-Qur'an di atas kertas kulit dari Yaman merujuk pada dua abad pertama Islam.
Terungkap sedikit namun mampu membangkitkan minat melakukan penyimpangan terhadap standar naskah Al-Qur'an. Penyelewengan seperti ini, kendati tidak mengherankan para ahli sejarah naskah Al-Qur'an, pada hakikatnya sangat mengganggu perasaan dan kepercayaan di kalangan Muslim orthodoks yang mempunyai anggapan bahwa Al-Qur'an yang sampai ketangan kita, hingga hari ini, masih dalam bentuknya yang sempurna, tanpa batas waktu, dan kata-kata Tuhan yang tidak pernah berubah. Pada dasarnya upaya kaum sekuler dalam upaya penafsiran ulang terhadap Al-Qur'an-sebagian berdasarkan fakta akan adanya kulit kertas naskah yang ada di Yaman15 sebagai gangguan dan serangan terhadap kalangan Islam sebagaimana rencana pengadaan reinterpretasi Kitab Injil dan kehidupan Jesus yang akan mengganggu dan merupakan penyerangan terhadap kalangan Kristen konservatif. Upaya reinterpretasi sekuler seperti itu, sangat kuat dan-sebagaimana demonstrasi sejarah renaissance dan reformasiakan mengarah terhadap lahirnya perubahan sosia] secara mendasar. Al-Qur’an, bagaimana pun, di saat sekarang merupakan naskah yang paling berpengaruh dari segi pemikiran ideologi.16
Seluruh permasalahan yang ada di hadapan kita adalah seperti berikut:
• Kitab suci Al-Qur' an dianggap sebagai naskah yang paling berpengaruh secara ideologi.
• Kalangan umat Islam melihat Al-Qur'an sebagaimana orang-orang Kristen memandang Kitab Injil kalamullah yang tidak pernah berubah.
• Fragmentasi naskah Al-Qur'an yang terdapat di Yaman dapat membantu upaya-upaya kalangan sekuler dalam mengadakan reinterpretasi Al¬Qur' an.
• Kendati merupakan sikap ofensif terhadap sejumlah besar umat Islam, reinterpretasi ini dapat menjadi impetus 'dorongan' perubahan sosial secara mendasar seperti yang dialami oleh agama Kristen beberapa abad yang silam.
• Perubahan-perubahan ini dapat dilakukan dengan menunjukkan bahwa Al-Qur'an pada dasarnya sebagai naskah cair (fluid text) di mana saat masyarakat Islam memberi kontribusi dan secara bebas menata kembali apa yang telah disusun beberapa abad sebelumnya, dapat memberi isyarat bahwa Qur'an tidak lagi suci, dan bahkan telah sesat.
Sebagian besar rujukan yang digunakan T. Lester dan nama-nama yang dikutip kebanyakan dari kalangan ini: Gerd R. Joseph Puin, Bothmer, Rippin, R. Stephen Humphreys, Gunter Lulling, Yehuda D. Nevo, Patricia Crone, Michael Cook, James Bellamy, William Muir, Lambton, Tolstove, Morozov dan Wansbrough. la juga berupaya meyakinkan munculnya cuaca segar di mana dunia Islam mulai menunjukkan langkah positif terhadap gerakan revisionism. Dalam kategori ini ia menyebut nama-nama seperti Nasr AN Zaid, Taha Husain, 'All Dushti, Muhammad 'Abdu, Ahmad Amin, Fazlur Rahman, dan akhirnya Muhammad Arkoun dan pesannya yang begitu gencar dalam memerangi pikiran konservatif.l7 Sedang aliran pemikiran dari kalangan ilmuwan tradisional semua dicampakkan, kecuali nama Muhammad 'Abdu yang kontroversial dimasukkan ke dalam daftar.
Akan tetapi, apakah sebenarnya aliran revisionisme itu? Di sini, T. Lester gagal memberi definisi terperinci, maka di sini izinkanlah saya memberi peluang Yehuda Nevo, salah satu sumber utama yang ia kutip membantu mendefinisikannya:
Pendekatan kaum "revisionis" sama sekali bersifat monolitik ... (akan tetapi mereka) bersatu dalam menolak validitas sejarah pada sejumlah masalah semata-mata berdasarkan fakta-fakta yang diserap dari sumber literatur Muslim. Informasi yang mereka peroleh hendaknya diperkuat dengan data-data kasar yang masih ada... Sumber-sumber tertulis harus diteliti dan dihadapkan dengan bukti dari luar dan jika terdapat silang di antara keduanya, yang kedua harus diberi prioritas lebih.18
Karena bukti dari luar sangat diperlukan dalam memberi pengesahan pendapat setiap Muslim, maka tidak adanya bukti kuat akan membantu penolakan anggapan dan memberi pernyataan secara tidak langsung tentang permasalahan yang tidak pernah terjadi.
Karena tidak adanya bukti yang dikehendaki di luar pendapat tradisional, maka akan jadi bukti positif dalam memperkuat hipotesis terhadap sesuatu yang tidak pernah terjadi. Contoh nyata adalah kurangnya bukti di luar literatur Muslim, di mana berdasarkan fakta yang ada semua orang Arab sudah memeluk agama Islam saat terjadi penaklukan kota Mekah.19
Hasil pendekatan revisionis tidak lain ingin menghapus sejarah Islam secara menyeluruh dan pemalsuan terhadap yang lain di mana peristiwa seperti munculnya berhala di kota Mekah sebelum Islam, permukiman Yahudi di Madinah, dan kemenangan umat Islam terhadap Byzantin atau imperium Byzantin di Syria semuanya ditolak. Pada dasarnya, gerakan revisionisme memandang bahwa berhala yang ada di Mekah sebelum Islam semata-mata penjelmaan khayal dari budaya keberhalaan yang berkembang di sebelah selatan Palestina.20
Masalah sentral yang perlu mendapat penjelasan di sini adalah adanya tujuan pasti di balik penemuan yang ada. Hal tersebut bukan muncul secara vacum atau terjadi dengan tanpa rencana di atas pangkuan para Ilmuwan. Mereka merupakan gagasan dari sebuah ideologi dan arena politik yang dibuat secara terselubung di balik kemajuan penelitian akademik.21
Berbagai upaya pengaburan ajaran Islam dan Kitab Sucinya bermula sejak lahirnya agama tersebut, kendati strategi di balik itu mengalami peru¬bahan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Sejak agama Islam lahir hingga abad ke tiga betas hijriah atau abad ke tujuh dan ke delapan hingga abad ke tiga betas setelah hijriah (dari abad ketujuh hingga delapan betas masehi), tujuan utamanya adalah bagaimana memberi proteksi kuat agama Kristen dalam menghadapi arus kemajuan agama ini di Irak, Suriah, Palestina, Mesir, Libya dll. Salah satu contoh nyata dari masa ini adalah Yohannes dari Damascus (35¬133 hijriah./675-750 Masehi), Peter The Venerable (1084-1156 Masehi), Robert of Ketton (1084-1156 Masehi), Raymond Lull (1235-1316 Masehi), Martin Luther (1483-1546 Masehi), Ludovico Marraci (1612-1700 Masehi). Mereka memperalat pena dengan cara yang tidak sederhana menghendaki sikap ketololan dan pemalsuan. Dipicu oleh semangat perubahan politik yang menguntungkan dan dimulainya penjajahan sejak abad kedelapan betas hingga seterusnya, tahap kedua penyerangan terhadap agama Islam menunjukkan perubahan sikap setelah melihat banyak orang masuk Islam atau sekurang¬kurangnya munculnya rasa bangga dan penentangan yang lahir dari kepercayaan mereka terhadap Allah.
Abraham Geiger (1810-1874) termasuk pada masa kedua. Disertasinya berjudul What hat Mohammaed aus den Judettum aufgenommen? ('Apa yang diambil oleh Muhammad dari agama Yahudi?') merupakan upaya menguak pencarian pengaruh tersembunyi terhadap Al-Qur'an yang menyebabkan lahirnya buku-buku dan artikel yang tak terhingga jumlahnya dengan tujuan hendak memberi anggapan seperti halnya Kitab Injil yang palsu dan penuh kesalahan.
Bab-Bab berikut akan menampilkan nama-nama lain yang jadi pelopor periode kedua, seperti Noldeke (1836-1930), Goldziher (1850-1921), Hurgonje (1857-1936), Bergstrasser (1886-19330, Tisdall (1859-19280, Jeffery (d.1952) dan Schact (1902-1969). Kelompok ketiga bermula dari pertengahan abad ke-20 sejak berdirinya negara Israel, secara aktif berupaya melenyapkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengutuk kebiadaban perilaku kaum Yahudi. Di antara pengikut aliran ini adalah Rippin, Crone, Power, Calder dan, tidak ketinggalan juga Wansbrough. Teori mereka menyebut bahwa Al-Qur'an dan hadith merupakan produksi masyarakat yang selama dua abad secara fiktif dinisbahkan pada seorang Nabi Arab berdasarkan prototype yang dilakukan oleh orang Yahudi yang tentunya merupakan pendekatan paling keji dalam menepis AI-Qur' an dari statusnya yang suci.
Beberapa dasawarsa-dasawarsa yang silam mulai menyaksikan pen¬dewasaan kedua kelompok terakhir dengan agak cepat dalam menggunakan cara-cara yang agak fair dalam menyerang Al-Qur'an yang dikemas melalui kontekstualisasi budaya, di mana dianggap sebagai basil dari masa tertentu yang sudah usang dari sebuah kitab yang berlaku bagi semua ruang dan waktu.
Islam tradisional tidak begitu gamang jika disebut bahwa wahyu merefleksikan milieu saat ia diturunkan... Akan tetapi Islam tradisional tidak pernah membuat lompatan dari suatu pemikiran bahwa kitab yang berkaitan dengan masyarakat di mana ia diwahyukan pada sebuah gejala yang merupakan produk masyarakat itu sendiri. Bagi sebagian besar umat Islam di dunia modern, gerakan penting apa pun dari sebuah aliran pemikiran tak mungkin jadi pilihan dalam waktu dekat.22
Pendapat itulah yang menyulut inspirasi Nasir Abu Zaid (seorang yang telah dinyatakan murtad oleh pengadilan tinggi Mesir yang menurut Cook, sebagai "Muslim sekuler"23), di mana keyakinan utama tentang Al-Qur'an sebagai berikut,
Jika teks Al-Qur'an adalah risalah yang ditujukan kepada orang Arab pada abad ke tujuh, maka tentu dibuat formulasi dengan suatu cara yang secara spesifik berdasarkan sejarah sesuai dengan bahasa dan kultur yang ada. Jika demikian halnya, maka, Al-Qur'an dibentuk sesuai dengan susunan kemanusiaan (a human setting). la merupakan produk kebudayaan', suatu ungkapan yang sering dipakai Abu Zayd, yang dinyatakan di depan Mahkamah kasasi yang menempatkan ia sebagai orang kaflr.24
Pendekatan Al-Qur'an melalui pendapat tekstual tampak cukup lunak bagi yang merasa belum kenal; Bagaimana mungkin bahaya dari konsep pemikiran sebagai pendekatan secara 'semantik' dan linguistik tekstual ter¬hadap Al-Qur'an? Perhatian utama bukanlah kajian terhadap teks itu sendiri dan perkembangan evolusinya, melainkan bagaimana bentuk struktur Al¬Qur'an diambil dari literature bahasa Arab di abad ke-7/ke-8.25
Berbicara tentang ilmuwan Kitab Injil seperti Van Buren, Professor E.L. Mascall menjelaskan, "(ia) menemukan dasar-dasar petunjuk tentang seku¬larisasi Kristen dalam aliran filsafat yang biasanya dikenal dengan analisis dari segi bahasa."26 Jika hal yang demikian dimaksudkan pada analisis bahasa kajian Kitab Injil, apakah motif lain dalam mengaplikasikan pendekatan ini terhadap kajian Al-Qur'an?
Hal ini di luar bidang dari apa yang dapat diterima oleh kalangan umat Islam, strategi lain adalah keinginan mengubah naskah suci Al-Qur'an melalui terjemahan bahasa sehari-hari yang kemudian mengangkatnya sederajat dengan bahasa Arab asli. Dengan cara demikian masyarakat Muslim, di mana tiga perempatnya bukan Arab, akan dapat mengalami keterputusan dari wahyu Allah yang sebenarnya.
Adalah sangat tidak tepat antara bahasa Arab Al-Qur'an dan bahasa setempat pada tingkat pendidikan dasar. Ketegangan semakin runyam setelah melihat fakta bahwa gerakan modernitas bermaksud menguatkan perhatian dalam mencerdaskan kitab suci di kalangan sebagian besar orang-orang yang beriman. Seperti dikatakan oleh tokoh nasionalis Turki, Ziya Gokalp (w.1924), "Suatu negeri di mana di sekolah-sekolah mengajar Al-Qur'an pada setiap orang dalam bahasa Turki merupakan fakta bahwa tiap orang tua dan muda dapat mengenal perintah Tuhan."27
Setelah menjelaskan usaha sia-sia yang dilakukan oleh Turki dalam mengubah Al-Qur' an dengan bahasa mereka, Michael Cook menyimpulkan,
Kini dunia Muslim non-Arab menunjukkan sedikit tanda-tanda ingin mengikuti pemikiran bahasa kitab sehari-hari menurut cara yang terjadi pada abad ke enam belas yang dilakukan oleh orang-orang Protestan atau pada abad kedua puluh seperti yang dilakukan oleh orang-orang Katolik.28
Jika semua upaya penipuan dalam keadaan serbamentok, jalan terakhir seperti ditegaskan oleh Cook:
Di kalangan masyarakat Barat modern, terdapat aksiomatik di mana kepercayaan agama orang lain (kendati, tentu saja, tidak semua orang ter¬motivasi oleh perilaku keagamaan) harus diberi sikap toleransi dan bahkan dihormati. Tentunya akan dianggap sebagai langkah keliru dan picik untuk menyatakan pendapat keagamaan orang lain sebagai hal yang salah dan agama sendiri adalah benar... Anggapan akan kebenaran mutlak dalam masalah keagamaan sudah ketinggalan zaman dan tak mungkin dapat diharap lagi. Namun demikian, hal ini merupakan gejala yang mengemuka di kalangan Islam tradisi seperti dialami oleh kalangan Kristen tradisi, hanya saja di abad-abad terakhir terasa lebih dominan di kalangan Islam.29
Cook mengemukakan pendapatnya dalam tulisan yang berjudul "Sikap toleransi terhadap kepercayaan - orang lain", kendati yang dipaparkan menyentuh masalah universalisme. Dalam melihat sikap toleransi, Islam mempertahankan kejelasan ajarannya dalam mengatur hak-hak non-Muslim dan merupakan hal yang sangat terkenal. Serangan Cook tidak lain ingin menumbuhkan sikap keragu-raguan dan relativisme: suatu gejala penyamaan semua agama karena berpikir sebaliknya berarti mengkhianati diri sendiri sebagai sikap berpikir bodoh dan provincialisme'kampungan'. Sebenarnya, ini sistem perangkap yang lebih mudah bagi kalangan kontemporer Muslim yang tak terdidik secara balk. Sebagai akibat dari pikiran ini, "Terdapat kesepakatan dalam menolak segala bentuk rencana pembedaan antara non-Muslim, ilmu pengetahuan, dan kesarjanaan Muslim di masa sekarang mengenai sistem kajian Al-Qur'an."30
Sekarang muncul metode baru di kalangan ilmuwan Barat dalam menyerang tradisi buku-buku tafsir31 menuntut pembaruan segalanya. Dengan alasan hak tersendiri dalam menafsirkan kitab suci, kebanyakan orientalis menepis pendapat ulama Islam terdahulu dengan "alasan bahwa-karena tertipu oleh suatu anggapan bahwa Al-Qur'an sebagai kitab suci-mereka sudah barang tentu tidak dapat memahami isi teks yang ada dengan baik seperti para sarjana Barat memahaminya secara liberal.32 Basetti-Sani dan Youakim Moubarac keduanya ngototbahwa tafsiran AI-Qur'an mesti dibuat sejalan dengan ukuran kebenaran agama Kristen, suatu pernyataan yang mendapat acungan jempol dari W.C, Smith and Kenneth Cragg.33 Sebagai seorang pemimpin Gereja Anglican, Cragg menekankan agar umat Islam menghapus semua ayat yang diturtmkan di Madinah (dengan penekanan di bidang politik dan hukum) guna mempertahankan esensi ayat-ayat Makkiyyah yang secara umum lebih menyentuh masalah keesaan Tuhan (monotheism) di mana ayat Madaniyyah dianggap meremehkan nilai ketuhanan dari esensi pernyataan tiada tuhan melainkan Allah .34
Konsep pemikiran ini bermaksud hendak "menggoyang" orang-orang yang lemah iman dan was-was dengan memperalat senjata "sikap sinis" kaum orientalis yang selalu menghujat serta menolak kitab asli yang mereka warisi agar semakin mudah menerima ideologi Barat. Artikel yang ditulis Toby Lester dapat dianggap sebagai kartu baru menggunakan fragmentasi Qur'an Yaman sebagai umpan. Pada dasarnya Dr. Puin menolak semua penemuan yang dinisbatkan T. Lester kepadanya dengan menepis beberapa perbedaan ejaan dan perkataan. Berikut adalah sebagian dari surat asli Dr. Puin yang ditulis untuk Qadi Ismail al-Akwa' beberapa saat setelah muncul tulisan Lester¬dengan terjemahannya.35
Hal yang sangat penting, puji syukur pada Allah bahwa fragmentasi mushaf dari Yaman tidak berbeda dengan yang terdapat di berbagai museum dan perpustakaan di tempat lain dengan beberapa penjelasan yang tidak mengena dengan Al-Qur an, kecuali beberapa perbedaan dalam ejaan kata-kata. Hal ini merupakan suatu yang dikenal di kalangan luas bahwa seperti Qur' an yang diterbitkan di Cairo:
Kata Ibrahim tertulis ( ) menjadi Ibrhm ( )
Qur'an juga ditulis ( ) menjadi Qrn ( )
Simahum tertulis( ) menjadi Simhum ( ) etc.
Lihat teks gambar No. 1.1 hlm. 12. Dalam fragmentasi Al-Qur'an kuno yang terdapat di Yaman, tidak dituliskannya huruf alif merupakan gejala umum.
Hal ini dapat menurunkan nilai perdebatan yang ada serta melenyapkan kekaburan jaringan licik di sekitar penemuan Dr. Puin membuat sebagai topik bahasan yang tidak perlu mengundang spekulasi lebih jauh.36 Marilah ambil perumpamaan sekiranya penemuan itu benar, lantas bagaimana tanggapan kita? Di sini kita dihadapkan pada tiga permasalahan:
(1) Apakah Al-Qur' an itu?
(2) Jika seluruh naskah tidak ada atau sebagian ditemukan saat sekarang maupun yang akan diklaim sebagai Al-Qur'an tapi berbeda dari yang ada di tangan kita, apa pengaruhnya terhadap teks Al-Qur' an sekarang?
(3) Siapa yang berhak memegang otoritas Al-Qur'an, dalam hal penulisan tentang agama dan sejarahnya?
Ini semua akan diperjelas dalam tulisan ini guna mendobrak bukan saja jawaban-jawaban yang diperlukan melainkan juga logika penentu sikap mereka:
a) Al-Qur'an adalah kalamullah, risalah terakhir untuk umat manusia, diwahyukan pada Rasul terakhir, Muhammad, yang meruang dan sewaktu. la terpelihara di segi keaslian bahasa tanpa perubahan, tambahan, maupun pengurangan.
b) Tak akan ada penemuan Qur'an, baik secara fragmentasi maupun seluruhnya, yang berlainan dari teks yang ada di seluruh dunia. Jika ada, maka tidak akan dianggap sebagai Al-Qur'an, karena satu syarat utama penerimaannya mesti sesuai dengan teks yang digunakan dalam mushaf 'Uthmani.37
c) Tentu saja siapa pun tak berhak melarang seseorang menulis tentang Islam, akan tetapi hanya seorang Muslim yang taat memiliki wewenang yang sah melakukan tugas tersebut dan bahasan lain yang ada hubung¬annya. Mungkin pihak lain menganggap hal ini sebagai prasangka; tetapi siapakah yang tak bersikap demikian? Di luar kalangan Islam tidak dapat mengklaim sikap netral karena tulisan mereka sengaja ingin mengalihkan pikiran orang lain. Apakah ajaran Islam dapat menerima atau tidak ter¬gantung kepercayaan masing-masing dan setiap penafsiran dari pihak Kristen, Yahudi, atheis, atau orang Islam yang tidak mau menjalankan Shari'atnya harus ditolak secara tegas. Saya dapat tambahkan jika tiap pandangan yang disukai bertentangan dengan dasar ajaran Nabi Muhammad saw. balk secara eksplisit mau pun sebaliknya, ia mesti ditolak dan hal ini berlaku bagi tulisan seorang Muslim yang taat sekalipun dapat ditepis sekiranya tidak ada gunanya. Bentuk selektivitas seperti ini berlaku sejak masa keemasan pemerintahan Ibn Sirin (w.110 H./728 M.):
Ilmu ini merupakan agama Anda, maka hendaknya berhati-hati dari mana Anda mengambil agama.38
Mungkin pihak lain menganggap umat Islam tidak memiliki alasan kuat dalam merespons metode keilmuan orang lain. Masalahnya, bagi orang Islam berlandaskan sepenuhnya pada keimanan bukan asal akal-akalan. Di sini saya perlu mengemukakan pendapat dalam menyikapi penemuan mereka dalam bab-bab berikut. Awalnya akan saya ceritakan beberapa bagian sejarah Islam sebagai titik awal memasuki kajian lebih dalam mengenai Al-Qur'an.



Endnotes:

1. Qur'an, 5:8
2. Dikutip oleh M. Broomhall, Islam in China, New Impression, London, 1987, hlm. 2.
3. Seperti penjelasan Lester. Kendati dalam tulisannya memberi ejaan Qur'an dengan Koran, hal ini secara teknis tidak benar dan saya akan menggunakan ejaan secara tepat jika tidak langsung mencatat dari ayat.
4. Lester, hlm. 46.
5. Ibid.., h1m.46-47.
6. London, 18 Februari, 1999.
7. Lester, hlm.44, dengan penambahan cetak miring (italic).
8. Ibid., hlm. 45.Diberi tambahan dalam cetak miring. Perlu kiranya dicatat bahwa semua penilaian konyol telah dilemparkan jauh sebelum seseorang mempelajari secara sungguh-sungguh tentang naskah asli. Hal ini merupakan tipikal keilmuan dan pendekatan para orientalis.
9. Ibid., h1m.46.
10. Lihat buku ini pada hlm. 51-53.
11. Lester, hlm. 54.
12. Ibid., hlm. 54.
13. Ibid., hlm. 55
14. 1bid., hIm.55.
15. Sebagai tambahan, dalam penilaian saya the Turk ve Islam Eseleri Muzesi (Museum Kebudayaan Islam) memiliki koleksi lebih besar dari yang ada di Yaman. Sayangnya saya tidak diizinkan melihat koleksi ini. Keadaan ini masih spekulatif kendati menurut F. Deroche, ia menampung lebih kurang 210,000 folios ("The Qur'an of Amagur", Manuscript of the Middle East, Leiden, 1990-91, vo1.5, h1m.59).
16. Lester, hlm. 44, dengan tambahan cetak miring.
17. Ibid., hlm.56.
18. J. Koren dan Y.D. Nevo, "Methodological Approaches to Islamic Studies", Der Islam, Band 68, Heft l, 1991, hlm.89-90.
19. Ibid., hlm.92.
20. Ibid., hIm.100-102. Lihat juga buku ini pada hlm. 376-8.
21. Topik bahasan lebih mendasar dapat dilihat pada bab 19.
22. Michael Cook, The Koran: AQ Very Short introduction, Oxford Univ. Press, 2000, hlm.44.
23. Ibid., hlm..46.
24. Ibid., hlm. 46.
25. Untuk lebih jelas, harap di lihat Stefan Wild's (ed.), Preface to The Qur'an as Text, E.J. Brill, Leiden, 1996, hlm. vii-xi.
26. E.L. Mascall, The Secularization of Christianity, Darton, Longman & Todd Ltd., London,
1965, hlm. 41. Dr. Paul M. Van Buren adalah penulis buku "The Secular Meaning of the Gospel", yang ditulis menurut sistem analisis bahasa Injil (ibid, hlm. 41.)
27. M. Cook, The Koran: A Very Short Introduction, hlm.26. Yang menarik Ziya Gokalp merupakan Domna Yahudi yang masuk Islam (M. Qutb, al-Mustashriqun wa al-Islam, hlm. 198).
28. M. Cook, The Koran: A Very Short Introduction, h1m.27.
29. Ibid., h1m.33, dengan penambahan penekanan. Kata-kata Cook berbunyi, "Hal itu merupakan masalah utama dalam tradisi Islam", yang (mungkin) dianggap tidak cocok lagi untuk Islam modem.
30. Stefan Wild (ed.), The Qur'an as Text, p.x. Aslinya tertulis 'was' instead of 'is', akan tetapi perubahan waktu (tense) rasanya biasa saja seperti tidak ada suatu perubahan. Sebenarnya, tradisi keilmuan Muslim tentang Al-Qur'an selalu diletakkan pada posisi kelas dua di kalangan ilmuwan Barat, mengingat yang pertama tetap berpegang teguh pada tradisi sedang ke dua menghendaki adanya sistem perubahan atau revionism.
31. Tafsir Al-Qur'an an.
32. W.C. Smith, "The True Meaning of Scripture", IJMES, vol. 11 (1980), hlm..498.
33. Peter Ford, "The Qur'an as Sacred Scripture", Muslim World, vol. xxxiii, no.2, April 1993, hlm.151-53.
34. A. Saeed, "Rethinking Revelation as Condition for Interpretation of the Qur'an: A Qur'anic Perspective", JQS, I-93-114.
35. Guna mengetahui teks bahasa Arab seluruhnya dari surat yang dikirim, dapat dilihat pada surat kabar harian, ath-Thawra, isu 24.11.1419 A.H./11.3.1999.
36. Tercantum penemuan Puin dan anggapannya pada hlm. 349-351
37. Bentuk teks yang menunjukkan variasi dalam bentuk tulisan dapat dilihat pada bab ke-9, ke¬10, dan ke-11. Namun demikian kita memberi pertimbangan bahwa terdapat lebih dari 250,000 manuskrip Al-Qur'an di seluruh dunia (harap dilihat pada hlm. 352.)
38. Sebenarnya Ibn Hibban merujuk kata-kata ini pada sahabat lain, seperti Abd Huraira (w.58 hijriah), Ibrahim an-Nakha'i (w.96 hijriah), ad-Dahhak bin Muzahim (w.circa 100 setelah hijrah), al¬asan al-Basri (w. 110 hijriah), dan Zaid bin Aslam (w.136 hijriah). (Ibn Hibban, al-Majruhin, i:21-23).

BAB 2 :
SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM


1. Arab Pra-Islam

i. Kondisi Geo-Politik

Arab. Letaknya yang dekat persimpangan ketiga benua, semenanjung Arab menjadi dunia yang paling mudah dikenal di alam ini. Dibatasi oleh Laut Merah ke sebelah barat, Teluk Persia ke sebelah Timur, Lautan India ke sebelah selatan, Suriah dan Mesopotamia ke utara, dahulu merupakan tanah yang gersang tumbuh-tumbuhan di Pegunungan Sarawat yang melintasi garis pantai sebelah barat. Meski tidak banyak perairan, beberapa sumbernya terdapat di bawah tanah yang membuat ketenangan dan sejak dulu berfungsi sebagai urat nadi permukiman manusia dan kafilah-kafilah.
Semenanjung Arabia dihuni sejak hari-hari pertama dalam catatan sejarah. Sebenarnya penduduk teluk Persia telah membangun negara perkotaan, city-state, sebelum abad ketiga S.M.1 Para ilmuwan menganggap wilayah tersebut sebagai tempat kelahiran suku bangsa Semit, meski sebenarnya tak ada kata mufakat di antara mereka. Istilah Semit mencakup: Babilonia (pendapat Von Kremer, Guide, dan Hommel);2 semenanjung Arabia (Sprenger, Sayce, De Goeje, Brockelmann, dan lain-lain);3 Afrika (Noldeke dan lain-lain);4 Amuru (A.T. Clay);5 Armenia (John Peaters);6 bagian sebelah selatan semenanjung of Arabia (John Philby);7 dan Eropa (Ungnand).8
Phillip Hitti, dalam karyanya yang berjudul, Sejarah Bangsa Arab, menyebut,
"Kendati istilah semi tmuncul belakangan di kalangan masyarakat Eropa, hal tersebut biasanya dialamatkan pada orang-orang Yahudi karena yang terkonsentrasi di Amerika. Sebenarnya lebih tepat ditujukan pada penduduk bangsa Arab yang, lebih dari kelompok manusia lain, telah mendapat ciri bangsa Semit secara fisik, kehidupan, adat istiadat, cara berpikir dan bahasa. Orang-orang Arab masih tetap sama sepanjang pen¬catatan sejarah."9
Hampir semua hipotesis asal-usul kesukuan lahir dari kajian di bidang bahasa mengambil sumber informasi dari Kitab Perjanjian Lama,10 yang kebanyakan tidak bersifat ilmiah serta didukung oleh bukti sejarah yang akurat. Misalnya, Kitab Perjanjian Lama memasukkan bangsa lain yang pada hakikat¬nya bukan bangsa Semit seperti Alamite dan Ludim, di waktu yang sama tidak mengikutsertakan beberapa bangsa Semit lain seperti Funisia dan Kanaan.11 Melihat pendapat yang beragam, saya lebih cenderung menerima bahwa kaum Semit muncul dari kalangan bangsa Arab. Menjawab pertanyaan siapa sebenarnya bangsa Semit dan siapa yang bukan, Bangsa Arab dan Israel memiliki keturunan asal usul serumpun melalui Nabi Ibrahim.12
ii. Nabi Ibrahim dan Kota Mekah
Dalam waktu yang ditetapkan dalam sejarah, Allah memberi karunia kepada Nabi Ibrahim seorang putra, Isma'il, pada usia lanjut. Ibunya, Siti Hajar, seorang hamba yang dihadiahkan Pharos kepada Sarah. Kelahiran Isma'il membuat Sarah cemburu luar biasa di mana ia meminta agar Ibrahim memutus hubungan persaudaraan wanita tersebut dengan putranya.13 Melihat adanya perselisihan dalam keluarga, ia membawa Siti Hajar dan Isma'il ke tanah Mekah yang tandus, lembah yang amat panas dan tak berpenduduk, serta ke¬kurangan makanan dan minuman. Saat mulai tinggal, Siti Hajar melempar pan¬dangan pada tanah kosong yang ada di sekelilingnya dengan perasaan tak menentu disertai pertanyaan kepada Ibrahim apakah ia telah meninggalkan mereka. la tak menjawab. Lalu ia bertanya adakah ini perintah Allah? Ibrahim lalu mengiyakan. Mendengar jawaban itu ia berkata, "Jika demikian halnya, Tuhan tak akan membuat kita sia-sia." Pada akhirnya, air Zamzam menyembur dari dalam tanah gersang membasahi kaki si kecil, Isma'il. Mata air itulah yang membuat tempat itu sebagai permukiman yang dihuni pertama kali oleh kabilah Jurhum.14
Beberapa tahun kemudian Nabi Ibrahim, saat mengunjungi putranya, memberi tahu tentang sebuah pandangan pemikiran:
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama¬sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka Pikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang dipertanyakan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang¬orang yang sabar.' Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran kedua¬nya). Dan saya panggilah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,' sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar¬benar sesuatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."15
Nabi Ibrahim dan Isma'il menerima perintah ketuhanan guna membangun tempat suci pertama di muka bumi sebagai tempat menyembah Allah,
"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."16
Bakkah sebuah ungkapan kata lain dari kota Mekah, dari atas batu itulah ayah dan putranya memusatkan perhatian pada pembangunan Ka'bah yang suci dengan sikap ketakwaan seorang yang telah menghadapi cobaan yang sangat berat dan mampu menghadapinya karena `inayah Allah. Setelah menyelesaikan bangunan itu, Nabi Ibrahim lalu berdoa,
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. "17
Tidak lama kemudian doa yang disemburkan mulai membuahkan hasil dan Mekah tidak lagi terpencil; kehidupan semakin berkembang dengan adanya tempat suci Allah, air zamzam, dan penduduknya mulai menuai kesuburan. Kemudian menjadi pusat lintas perdagangan ke Suriah, Yaman, Ta'if, dan Najd,18 dan penyebab utama di mana dari masa ke masa, para kaisar dari Aellius Gallus hingga Nero ingin menyebarkan pengaruh di persinggahan penting kota Mekah dengan mencurahkan segala upaya guna mencapai tujuan tersebut.19
Tampaknya terdapat pula gerakan kependudukan lain di semenanjung Arab. Perlu dicatat, di sana terdapat para pengungsi bangsa Yahudi, beberapa abad kemudian, memperkenalkan agamanya pada masa pengasingan orang¬orang Babilonia. Mereka kemudian menetap di Yathrib (Madinah sekarang), Khaebar, Taima', dan Fadak pada tahun 587 sebelum masehi dan tahun 70 Masehi.20 Suku bangsa Nomad terus mengalami perubahan. Suku bangsa Tha 'liba dari keturunan Qahtan juga tinggal di Madinah. Di antara anak cucu keturunan mereka adalah kabilah Aws dan Khazraj, yang kemudian ke duanya lebih dikenal sebagai kaum al-Ansar'21 (pendukung utama Nabi Muhammad). banu Harithah, yang kemudian dikenal sebagai banu Khuza'a, tinggal di Hejaz menggantikan penduduk sebelumnya, banu Jurhum,22 yang kemudian menjadi pemelihara Baitullah atau Ka'bah di Mekah. Merekalah yang harus memikul tanggung jawab karena melahirkan sistem keberhalaan.23 Bani Lakham, kabilah lain dari Qahtan, menetap di Hira (Kufa, sekarang Irak) di mana mereka mendirikan sebuah negara kecil sebagai penahan antara Jazirah Arabia dan Persia (200-602 masehi).24 Bani Ghassan menetap di Suriah sebelah bawah dan mendirikan kerajaan Ghassan, sebuah negeri penahan antara Byzantin dan Arab, yang berakhir hingga tahun 614 masehi.25 Bani Tay menduduki daerah pegunungan Tayy sedang ban! Kinda menetap di pusat Arab.26 Gambaran secara umum dari semua kabilah tersebut merupakan jalur keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Isma'il.27
Bab ini tidak dimaksudkan hendak memberi gambaran tentang kota Mekah sebelum Islam, sekadar pendahuluan akan adanya hubungan nenek moyang anggota keluarga Nabi Muhammad. Untuk mempersingkat, saya akan mengungkap dan melacak kelahiran Qusayy, para kakek Nabi Muhammad.
iii. Qusayy Sebagai Penguasa Kota Mekah
Ratusan tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad Qusayy. dikenal sebagai orang yang amat cerdas, perkasa serta memiliki kemampuan administrasi yang tinggi dan mencuat dalam jajaran pentas politik kota Mekah. Mengambil faedah dari kepentingan Byzantin di Mekah waktu itu, la minta pertolongan mereka dalam menguasai kota Mekah dengan mengesampingkan pengaruh Byzantin dengan tidak menghiraukan kepentingan wilayah mereka.28
Qusayy menikahi Hubba bint Hulail, putri kepala Suku Khuza'i di Mekah; kematiannya memberi peluang menaiki tahta kekuasaan dan menye¬rahkan pemeliharaan kota Mekah pada anak cucu keturunannya.30 Kabilah Quraish terpencar ke seluruh wilayah yang pada akhirnya semua memasuki kota Mekah dan menyatu di bawah komando kepemimpinannya.31

iv. Mekah: Sebuah Masyarakat Kabilah
Meski disebut sebagai kota negara, city-state, Mekah tetap merupakan masyarakat kesukuan hingga akhir penaklukannya pada masa Nabi Muhammad. Sistem kependudukan masyarakat dibangun menurut kabilah dimana anak-anak dari satu suku dianggap saudara yang memiliki pertalian hubungan darah. Seorang Arab tidak akan dapat memahami pemikiran negara kebangsaan melainkan dalam konteks sistem kesukuan (kabilah),
"Adalah hubungan negara kebangsaan yang mengikat keluarga ke dalam kesukuan,sebuah negara yang didasarkan pada hubungan darah daging seperti halnya negara kebangsaan yang dibangun di atas garis keturunan. Adalah hubungan kekeluargaan yang mengikat semua individu ke dalam negara dan kesatuan. Hal ini dianggap sebagai agama kebangsaan dan hukum perundangan-undangan yang telah mereka sepakati."32
Setiap anggota merupakan asset seluruh kabilah di mana munculnya se¬orang penyair kenamaan misalnya, ahli perang pemberani, orang terkenal dalam kebaikan dalam satu kabilah, akan membuat kehormatan dan nama baik seluruh garis keturunannya. Di antara tugas utama tiap pendukung kesukuan adalah mempertahankan bukan saja terhadap anggotanya melainkan setiap mereka yang secara sementara seperti tamu-tamu yang hadir di bawah bendera kabilah. Memberi proteksi pada mereka merupakan suatu kehormatan yang dicapai. Oleh karena itu, kota Mekah sebagai kota kenegaraan selalu siap menyambut setiap pendatang menghadiri perayaan, melakukan ibadah haji,33 atau pun sekadar lewat dengan rombongan berunta. Memberi pelayanan permintaan ini memerlukan keamanan dan fasilitas yang memadai, dan, oleh karena itu institusi kemudian dibangun di kota Mekah (di mana beberapa di antaranya oleh Qusayy sendiri):34 seperti Nadwa (lembaga perkotaan), Mashura (dewan nasihat), Qiyada (kepemimpinan), Sadana (adminstrasi kota suci), Hijaba (pemeliharaan Ka'bah), Siqaya (pengadaan air minum buat para jemaah haji), Imaratul-bait (pemeliharaan kesucian Ka'bah), Ifa`da (mereka yang berhak memberi izin pada orang pertama yang melangkah dalam acara perayaan), Ijaza, Nasi (institutsi penyesuaian kelender), Qubba (membuat tenda mengumpulkan sumbangan bagi mengatasi keadaan darurat, A'inna (pemegang kendali kuda), Rafada (pajak untuk membantu para jemaah haji yang miskin), Amwal muhajjara (sedekah untuk kesucian), Aysar, Ashnaq (pembuat perkiraan pertanggungan jawab keuangan) Hukuma (pemerintahan), Sifarah (kedutaan), `Uqab (penentuan standar), Liwa (panji) dan Hulwan-un¬nafr (mobilisasi kesejahteraan).
Tugas berat ini menjadi tanggung jawab anak cucu keturunan Qusayy. Keturunan 'Abdul-Dar misalnya mengambil alih tugas pemeliharaan Ka'bah, balai kelembagaan, dan hak-hak mengangkat panji pada semua staf pada saat peperangan.35 'Abd-Manaf mengatur hubungan luar negeri dengan penguasa Romawi, dan pangeran Ghassan. Hashim (putra lelaki 'Abd-Manaf) mengadakan perjanjian dan dikatakan telah menerima perintah dari kaisar memberi kekuasaan pada orang Quraish untuk melakukan perjalanan melalui Suriah dalam keadaan aman."36 Hashim dan kelompoknya tetap mempertahankan tugasnya sebagai kepala pengaturan makanan dan minuman untuk para jamaah haji. Kekayaannya telah memberi peluang melayani para jamaah haji dengan kebesaran seorang pangeran.37
Sewaktu melakukan misi perdagangan ke Madinah, Hashim terpikat oleh seorang wanita bangsawan suku Khazarite, Salma bint 'Amr. la menikah dan kembali bersamanya ke Mekah, namun saat dalam keadaan hamil ia memilih kembali ke Madinah dan melahirkan seorang putra, bernama Shaiba di sana. Hashim meninggal di Gaza pada saat melakukan misi perdagangan,38 dan memberi kepercayaan pada saudaranya, Muttalib, guna memelihara putranya39 yang saat itu, masih bersama sang ibu. Saat melakukan perjalanan ke Madinah, Muttalib berselisih paham dengan janda Hashim tentang penjagaan pemuda Shaiba, yang pada akhirnya ia berada pada pihak yang menang. Dengan kembali bersama paman dan keponakannya ke Mekah, orang salah pengertian dan mengira anak lelaki itu sebagai hamba Muttalib. Oleh sebab itu, nama julukan Shaiba menjadi 'Abdul-Muttalib.40
Setelah meninggal pamannya, 'Abdul-Muttalib, mewarisi tugas Siqaya (pengadaan air minum buat para jamaah haji) dan Rafada (pengumpul bantuan keuangan untuk para jamaah haji miskin).41 Setelah menemukan kembali sumur zamzam yang mata airnya terbenam dan sudah terlupakan di bawah himpunan pasir beberapa tahun lamanya, ia memperoleh kehormatan dan ketinggian menjadi gubernur kota Mekah. Beberapa tahun sebelumnya ia pernah nazar bahwa jika ia diberi sepuluh orang putra, ia akan mengorbankan satu di antara mereka demi sebuah patung berhala. Sekarang, setelah diberi keberkahan dengan sejumlah putra seperti dikehendaki, 'Abdul-Mutallib berupaya memenuhi janjinya dengan meminta pendapat Azlam42 agar memilih siapa di antara mereka yang hendak dikorbankan. Nama anak termuda (yang paling digemari), 'Abdullah, ternyata itu yang muncul. Pengorbanan ke¬munisaan dianggap suatu yang tidak disenangi di kalangan orang Quraish, maka ia mengontak juru sihir yang, menurut ramalan, 'Abdullah akan ditukar dengan seekor unta. Azlam kembali dihubungi, dan nilai nyawa anak muda itu ditaksir dengan harga seratus unta.
v. Masa Qusayy Hingga Muhammad
Karena luapan kegembiraan melihat peristiwa tersebut 'Abdul-Muttalib membawa putranya, 'Abdullah, ke Madinah untuk mengunjungi beberapa kerabatnya. Di sanalah `Abdullah mengawini Amina, sepupu perempuan Wuhaib yang merupakan tuan rumah dan memiliki asal usul keturunan kabilah (saudara laki-laki Qusayy mendirikan kabilah bani Zuhra dari suku Wuhaib). 'Abdullah menikmati kedamaian dalam keluarga beberapa lama sebelum memulai misi perdagangan ke Syria. Malangnya sepanjang perjalanan jatuh sakit. la kembali ke Madinah dan meninggal dunia di saat Amina mulai kehamilan Muhammad.
vi. Kondisi Keagamaan di Jazirah Arabia
Menjelang masa kenabian Muhammad, Jazirah Arab tidak merasa akrab melihat semua bentuk reformasi keagamaan. Sejak berabad-abad penyem¬bahan patung berhala tetap tak terusik, baik pada masa kehadiran permukiman kaum Yahudi maupun upaya-upaya Kristenisasi yang muncul dari Syria dan Mesir. William Muir, dalam bukunya, The Life of Mahomet, beralasan bahwa kehadiran kaum Yahudi atau keberadaan mereka membantu menetralisasi tersebarnya ajaran Injil melalui dua tahap. Pertama, dengan memperkuat diri sendiri di sebelah utara perbatasan Arab, dan untuk itu, mereka membuat penghalang, barrier, antara ekspansi Kristen ke utara dan penghuni kaum berhala di sebelah selatan. Kedua, para penyembah berhala bangsa Arab telah melakukan kompromi dengan agama Yahudi dalam memasukkan cerita legendaris guna menghabisi permintaan aneh-aneh agama Kristen.43 Saya tak dapat menerima teori pendapat ini sama sekali. Menurut pengakuan bangsa Arab, sebenarnya, sisa-sisa keagamaan monoteistik Nabi Ibrahim dan Isma'il yang telah diubah oleh khurafat dan kebodohan. Cerita yang biasanya dimiliki oleh kaum Yahudi dan orang Arab umumnya merupakan hasil keturunan nenek moyang bersama.
Ajaran Kristen abad ke-7 itu sendiri tenggelam dalatn perubahan dan mitos palsu dan terperangkap dalam stagnasi secara total. Dulunya Bangsa Arab yang mengikuti agama Kristen bukan disebabkan oleh sikap persuasif melainkan akibat kekejaman kekuasaan politik.44 Tak ada kekuatan yang dapat melumpuhkan para penyembah berhala bangsa Arab di mana kemusyrikan mencengkeram begitu kuatnya. Lima abad lamanya upaya Kristenisasi mem¬buahkan hasil nihil. Perpindahan terhadap agama Kristen hanya terbatas pada ban! Harith dari Najran, bani Hanifa dari Yamama, dan beberapa bani Tayy di Tayma'.45 Dalam masa lima abad, sejarah tidak mencatat adanya satu insiden apa pun yang menyangkut sikap penyiksaan para misionaris Kristen. Di sini sarigat berbeda dari nasib yang dialami oleh pengikut Muhammad sejak awal pertama di Mekah di mana kristenisasi dipandang sebagai suatu hal yang menyusahkan dan mendapat sikap toleran, sebaliknya Islam dianggap sebagai suatu yang membahayakan terhadap institusi keberhalaan bangsa Arab.

2. Masa Kenabian Muhammad
(53 Sebelum Hijrah -11 Setelah Hijrah/571-632 Masehi.)46

Mengungkap kehidupan Nabi dalam Islam adalah pekerjaan yang cukup luas, seorang dapat menulis buku berjilid jilid yang dapat disajikan bagi ka¬langan yang berminat. Tujuan dalam bagian buku ini sedikit lain. Dalam bab-bab berikut kita akan mengupas beberapa nabi dari kalangan Israel, termasuk Nabi Isa dan kita hendak mengungkap sikap oposisi orang-orang Israel dan penye¬lewengan yang begitu cepat terhadap ajaran ketuhanan. Di sini, dalam melihat kembali jalan yang telah ditempuh oleh penulis lain, saya sekadar memaparkan uraian singkat guna melengkapi referensi tentang Nabi Musa dan Nabi Isa.
i. Kelahiran Muhammad
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa `Abdullah, ayah Muhammad, wafat saat Amina sedang hamil. Muhammad dilahirkan dalam keadaan serbapelik. la hadir dari keluarga miskin namun cukup terpandang di masyarakat. Beberapa saat kemudian ibunya juga meninggal dunia dan men¬jadi anak yatim sejak usia enam tahun. la mulai bekerja sebagai penggembala kambing di kota Mekah di dataran bumi yang tandus itu.47 Mengikuti jejak tradisi kehidupan orang Quraish, ia pun terjun ke dunia bisnis. Sikap integritas dan keberhasilannya sebagai pedagang, ia berhasil meraih simpati Khadijah seorang janda tua, cerdik, lagi kaya. Kemudian ia menikahinya.48 Muhammad amat terkenal memiliki sikap kejujuran dan integritas di seluruh kota Mekah dalam semua masalah. Pendapat Ibn Ishaq mengatakan, "Sebelum turunnya wahyu, orang-orang Quraish telah memberi label sebagai satu-satunya orang tepercaya (al-amin).49
ii. Muhammad Manusia Tepercaya
Datang masa yang amat tepat ketika orang Quraish merasa perlu mere¬novasi Ka'bah. Mereka bekerja sama di mana setiap anggota suku mengum¬pulkan batu-batu untuk membangun kembali sebagian struktur ada. Ketika konstruksi itu sampai pada peletakan batu hitam (Hajar al-aswad) perselisihan semakin memanas. Setiap sub-kesukuan ingin mendapat kehormatan me¬letakkan batu hitam itu pada sudutnya sampai titik puncaknya mereka membuat aliansi di mana bentrokan fisik semakin tak terelakan. Abu Umayya, sesepuh di kalangan bangsa Quraish, mendesak agar orang pertama yang memasuki pintu gerbang tempat suci ditunjuk sebagai juri dan semua dapat menerima pendapat ini. Orang pertama yang masuk pintu gerbang tidak lain adalah Muhammad. Ketika orang Quraish melihat, mereka berkomentar, "Kini hadir orang kepercayaan dan kita semua senang melihat ia bertindak sebagai hakim. Di sini Muhammad tiba." Ketika ia diberitahukan akan adanya perselisihan, ia meminta sehelai kain. Kemudian ia mengambil batu hitam itu dan meletakkan di atasnya dan meminta setiap kepala suku memegang bagian ujung penjuru kain dan mengangkat bersama-sama. Semua melakukannya dan saat mereka sampai pada titik batu hitam la (Muhammad) mengangkat dan meletakkannya dengan tangan sendiri. Dengan penyelesaian perselisihan yang memuaskan semua pihak, konstruksi bangunan berjalan tanpa ada gangguan yang lain.50
iii. Muhammad Utusan Allah
Dengan diberkahi sikap ideal dan benci terhadap segala jenis pemberhalaan, Muhammad tidak pernah sujud di depan patung erang Quraish ataupun ikut serta dalam ritual kemusyrikan. Selain ia hanya menyembah Tuhan Yang Esa, cara berpikir yang baik, dan keadaan buta huruf menye¬babkan la tak tahu-menahu praktik keagamaan Kristen maupun Yahudi. Kemudian sewaktu mulai menunjukkan tanda-tanda kematangan menerima tugas kenabian, Allah mempersiapkan tugas ini secara bertahap. Pertama, ia melihat kebenaran sebuah mimpi.51 la melihat batu memberi hormat padanya,52¬selain itu pernah mendengar Malaikat Jibril namanya dari langit,53 dan ia melihat cahaya bersinar.54
'A'isha melaporkan bahwa pendahuluan kenabian Muhammad adalah kesempurnaan impiannya: dalam masa enam bulan ia melihat mimpi begitu akurat menjelma seperti kenyataan. Kemudian, ketika wahyu pertama turun sewaktu menyendiri di Gua Hira', Malaikat Jibril muncul di depannya dan berkali-kali minta agar membaca. Saat melihat sikap dan penjelasan Muhammad bahwa ia seorang buta huruf, Jibil tetap ngotot hingga akhirnya dapat menirukan ayat-ayat pertama dari Surah al-'Alaq;55
'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpa! darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."56
Inilah pertama kali diturunkannya wahyu dan permulaan dari Kitab Al-Qur'an.
Suatu yang di luar dugaan pada usia empat puluh, Allah memanggil Muhammad dengan risalah sederhana tetapi jelas berupa pengakuan (‘Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya'). Dengan ini ia telah diberi mukjizat abadi yang dapat memuaskan akal pikiran, penawan hati yang mampu menggugah kembali jiwa jiwa yang tak berdaya yaitu berupa Kitab Suci Al-Qur'an.
iv. Abu Bakr Menerima Islam
Abu Bakr ibn Quhafa merupakan orang pertama di luar keluarga Nabi Muhammad. yang menerima Islam yang kemudian diberi gelar as-Siddiq. la seorang pedagang terkemuka dan disegani yang kemudian menjadi seorang sahabat setianya. Pada suatu hari ia bertanya pada Muhammad, 'Adakah betul apa yang dikatakan orang Quraish tentang engkau wahai Muhammad, bahwa mengganggu tuhan-tuhan mereka, menghina cara berpikir kita dan tak percaya pada tata perilaku yang dilakukan bapak-bapak kita terdahulu?', tanya Abu Bakr. Muhammad menjawab, "Saya seorang Nabi Allah dan utusan-Nya, saya diutus untuk menyampaikan risalah-Nya. Saya memanggil ke jalan Allah yang benar. Karena kebenaran ini aku mengajakmu mengikuti jalan Allah, Tuhan Yang Esa yang tidak ada menyamai-Nya, agar tidak menyembah kecuali Dia, dan memberi pertolongan pada mereka yang menaati perintah-Nya." Kemudian ia membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur'an yang menawan hatinya dan kemudian menyatakan menerima agama Islam.57
Selain sebagai seorang pedagang kenamaan, Abu Bakr punya makna tersendiri di hati orang Quraish. Dengan inisiatif sendiri menyampaikan risalah ini, ia mulai mengajak pihak lain mengikuti jejaknya terutama orang-orang kepercayaan yang sering berjumpa di pusat perdagangan. Banyak di antara mereka yang mengikuti, di antaranya az-Zubair bin al-'Awwam, 'Uthmam bin 'Affan, Talhah bin `Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqas dan 'Abdul-Rahman bin 'Auf. Abu Bakr menjadi pembela utama Nabi Muhammad dan memiliki keimanan yang prima dalam kondisi serbasulit sekalipun. Dalam hal perj alanan Nabi Muhammad ke Bait al-Maqdis (Jerusalem), beberapa pengikutnya tidak dapat menerima secara rational kejadian tersebut yang mengakibatkan se¬bagian mereka murtad. Para kafir Mekah mengambil kesempatan ini mem¬bujuk Abu Bakr membelot dari keyakinannya. Adakah ia masih percaya bahwa Muhammad telah melakukan perjalanan di malam hari ke Jerusalem dan kembali ke Mekah sebelum fajar? la menjawab, "Tentu saya percaya. Saya percaya terhadap sesuatu yang lebih dianggap aneh oleh kalian, yaitu sewaktu Muhammad memberitahukan menerima wahyu dari langit."58
v. Nabi Muhammad Berdakwah secara Terbuka
Setelah tiga tahun lamanya berdakwah secara rahasia, Nabi Muhammad dapat perintah Allah agar menyebarkan pesan-pesan dakwah terang-terangan.
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik."59
Pada tahap awal, Nabi Muhammad melihat keberhasilan dakwahnya karena para pembesar dan kepala suku tidak ada di kota Mekah. Saat kembali, mereka mulai membuat perhitungan dan menyadari akan bahaya agama baru ini. Mereka mulai melakukan penindasan terhadap masyarakat Muslim yang baru lahir. Beberapa rakyat kecil mulai dipaksa kembali menerima tata cara kehidupan semula sedang lainnya tetap bertahan pada kepercayaan agama baru. Dari hari ke hari kekejaman semakin meningkat dan Nabi Muhammad setelah lebih kurang dua tahun dalam penindasan minta mereka yang tak tahan menghadapi ujian agar hijrah ke Habashah.60 Memasuki kejadian tahun ke lima kenabian, mereka yang menerima usulan untuk hijrah berjumlah kurang dari dua puluh orang.61 Hijrah kedua dimulai tidak lama setelah melihat meningkatnya penindasan pihak orang-orang kafir yang ingin mencabut akar pemikiran Islam dari lubuk hati mereka.62 Melihat kegagalan strategi yang mereka lakukan, orang-orang kafir mulai mengambil langkah baru.
vi. Tawaran Pihak Quraish kepada Muhammad
Dengan masuk Islamnya Hamzah (salah satu paman Nabi Muhammad) merupakan titik klimaks bahaya yang dirasakan oleh pihak Quraish. 'Utba bin Rabi'a, seorang kepala suku melihat Muhammad melakukan shalat di Masjid al-Haram sendirian dan memberitahukan kepada lain, "Saya akan pergi me¬nemui Muhammad mengemukakan beberapa usulan yang mudah-mudahan ia dapat menerimanya. Kita akan tawarkan apa saja yang la mau dan kita akan membiarkan ia dalam keadaan selamat." ‘Utba pergi menemuinya dan berkata,
"Wahai saudara sepupuku, anda adalah satu di antara kita, keturunan kabilah termulia serta memiliki asal usul keturunan yang amat terpandang. Anda hadir di tengah para pengikut dengan membawa masalah yang amat besar yang mengakibatkan pecahnya masyarakat. Engkau caci maki tatanan hidup, menghina tuhan-tuhan dan agama mereka dan anda anggap keturunan mereka sebagai kafir. Sekarang dengar apa yang hendak saya tawarkan dengan harapan anda akan dapat menerima salah satu darinya." Nabi Muhammad setuju 'Utba meneruskan ucapannya, "Wahai saudara sepupu saya, jika sekiranya anda menghendaki-dengan apa yang anda bawa-harta kekayaan, kita akan mengumpulkan seluruh kekayaan dan menganugerahkan pada anda sehingga anda terlihat sebagai orang terkaya; jika sekiranya anda menghendaki kedudukan, saya akan mengangkat engkau pemimpin saya dan tak akan ada keputusan apa pun yang hendak dibuat tanpamu; jika anda menghendaki kekuasaan, saya akan membuatmu sebagai seorang raja; dan jika yang ada padamu ternyata merupakan roh jahat, seperti yang anda lihat tetapi tak mampu menghindar, saya akan mencari pakar peruwatan dan menggunakan seluruh harta kekayaan demi penyembuhan penyakitmu. Biasanya setiap roh jahat ada saja seorang ahli penyembuhnya." Setelah mendengar penuh sabar dan perhatian, Nabi Muhammad mulai menjawab, "Sekarang dengarlah dari saya:
"Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya) maka mereka tidak (kamu) mendengarkan. Mereka berkata, ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).' "63
Nabi Muhammad meneruskan bacaan sementara ‘Utba mendengar penuh perhatian sehingga sampai pada sepotong ayat yang memerintahkan sujud dan ia melakukannya. Nabi Muhammad kemudian berkata, "Anda telah mendengar apa yang telah kubacakan dan selanjutnya terserah sikap anda."64

vii. Boikot Kaum Quraish terhadap Muhammad dan Sukunya
Melihat kegagalan persuasi yang dilancarkan kepada Muhammad, para dedengkot Quraish menempuh cara lain. Mereka mendekati Abu Talib, sesepuh yang paling disegani dan sekaligus paman dan sumber proteksi baginya. la meminta agar Muhammad berhenti mencaci tuhan orang lain, mengutuk keturunan, dan agama nenek moyang mereka. Abu Talib diutus menyampaikan pesan mereka. Melihat sikap pamannya yang semakin goyah dalam mem¬belanya, Muhammad menjawab, "Wahai pamanku, demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kanan dan bulan di sebelah kiri memaksa saya agar meninggalkan tugas ini, saya akan tak akan menyerah. sehingga Allah memberi kemenangan ataupun aku binasa karena-Nya." Mendengar ucapannya, Abu Talib menoleh ke belakang sambil mengusap air mata. Tersentuh oleh ucapannya, ia meyakinkan dan tidak akan mundur sedikit pun dari pembelaan. Beberapa saat kemudian, sebagian anggota suku ban! Hashim dan al-Muttalib tidak mau meninggalkan Muhammad dan menyerahkannya meskipun mereka sama-sama menyembah berhala seperti lazimnya orang Quraish. Dengan kegagalan saat itu, para pembesar Quraish mengeluarkan menyatakan pemboikotan terhadap ban! Hashim dan al-Muttalib yang antara lain, perkawinan dan semua bentuk transaksi perdagangan sesama orang-orang Quraish agar diputus sampai pada keperluan sehari-hari tidak disediakan. Kekejaman yang me¬matikan itu berlangsung selama tiga tahun di mana Nabi Muhammad dan seluruh pengikutnya menderita kelaparan luar biasa tanpa makanan di tengah padang pasir tanpa tumbuh-tumbuhan.65
viii. Sumpah Setia 'Aqaba
Satu dasawarsa perj alanan dakwah, Nabi Muhammad mendapat beberapa ratus pengikut yang sabar dan tahan menghadapi segala penindasan. Pada masa itu pula agama ini dapat menyentuh telinga dan hati sebagian penduduk Madinah, yang letaknya lebih kurang 450 kilometer dari utara kota Mekah. Orang-orang Islam dari wilayah itu berkunjung ke Mekah tiap musim haji yang jumlahnya selalu bertambah sehingga pada akhirnya bertemu dengan Nabi Muhammad secara diam-diam di ‘Aqaba, dekat Mina di malam hari guna menyampaikan sumpah dan janji setia dengan noktah-noktah berikut,66
(1). Tidak akan menyekutukan Allah; (2). Menaati Nabi Muhammad dalam semua kebaikan; (3). Tidak akan mencuri; (4). Menjauhi perbuatan zina; (5). Menjauhi perbuatan maksiat, dan (6). Tidak akan mengumpat orang lain.
Tahun berikutnya dengan jumlah lebih besar (lebih dari tujuh puluh termasuk wanita) kembali menemui Nabi Muhammad di musim haji mengundang beliau hijrah ke Madinah. Pada malam itu mereka mengucapkan sumpah setia yang ke dua kali dengan sedikit penambahan ungkapan kata¬kata;67 hendak memberi proteksi pada Nabi Muhammad seperti halnya mereka memproteksi keluarga mereka. Dengan undangan ini kaum Muslim yang merasa tertindas dapat menemukan jalan keluar, sebuah perjalanan di mana akan mendapat sambutan hangat dari penduduknya.
ix. Upaya Pembunuhan Nabi Muhammad
Setelah sanksi ekonomi yang amat kejam itu berjalan tiga tahun, sebagian masyarakat Muslim cenderung menerima tawaran dan sebagian mulai berhijrah. Menyadari akan gerak yang mungkin dilakukan oleh Nabi Muhammad ke utara menuju Madinah hanya akan memperlambat konfrontasi yang tak mungkin terelakan. Demi tercapainya tujuan, para pembesar Quraish menya¬dari akan waktu yang tepat untuk mengakhiri permusuhan dengan kesepakatan menghabisi nyawa Nabi Muhammad. Setelah mencium upaya itu, Allah memerintahkan Muhammad agar segera bergegas hijrah ke Madinah
x. Muhammad di Madinah
Menghindari upaya pembunuhan, berkat rahmat dan izin Allah, Nabi Muhammad berhijrah ditemani sahabat setianya, Abu Bakr, bersembunyi selama tiga hari di Gua at-Thur yang gelap.69 Madinah diwarnai upacara kebesaran saat beliau tiba pada bulan rabi 'al-awwal, di mana seluruh jalan penuh dengan luapan ekspresi kegembiraan pantun dan syair. Dengan berakhirnya segala penindasan, Nabi Muhammad tidak lama kemudian mulai membangun sebuah masjid sederhana yang cukup luas dan mampu menampung banyak para penuntut ilmu, tamu-tamu, dan para pelaku ibadah tiap hari dan shalat Jumat. Jauh sebelumnya, sistem perundang-undangan telah dirancang yang mengatur hubungan tanggung jawab kaum pendatang dari Mekah dan penduduk Madinah terhadap orang lain, negara Islam yang baru lahir, sesama orang Yahudi, dan kedudukan serta tanggung jawab mereka terhadap masyarakat dan negara. Ini merupakan sistem perundang-undangan pertama yang tertulis dalam sejarah dunia:70
Madinah terdiri dari sebagian beberapa suku orang Yahudi. Aus dan Khazraj adalah suku terbesar di antara yang ada. Kedua suku itu terikat tali hubungan darah, kendati tak serasi dan sering kali terlibat dalam konflik bersenjata. Orang-orang Yahudi selalu berubah sikap yang mengakibatkan keretakan di antara mereka. Kedatangan Nabi Muhammad telah mengobarkan minat pemeluk agama baru ke setiap rumah suku Aus dan Khazraj, seperti halnya situasi politik yang semakin jelas dengan terciptanya perundang¬undangan baru di mana Nabi Muhammad sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dan sekaligus sebagai pemimpin umat Islam dan juga bangsa Yahudi. Bagi mereka yang tidak suka memihak pada Nabi Muhammad dianggap kurang bijak untuk melakukan oposisi terbuka, dan bagi mereka sikap bermuka dua menjadi hal yang rutin. Orang-orang munafik berupaya menyakiti Nabi Muhammad dan pengikutnya melalui berbagai cara dan dengan penuh semangat yang tak terpatahkan sepanjang kehidupan beliau.
Permusuhan secara terang-terangan antara umat Islam dan orang kafir Arab dan keberadaan orang Yahudi, telah menyulut terjadinya beberapa per¬tempuran besar dan kecil. Peperangan yang besar, antara lain, seperti Perang Badardi bulan Ramadan dua tahun setelah hijrah,71 Perang Uhud yang terjadi pada bulan Shawwal, tahun ke-3 setelah hijrah; Perang Khandaq di bulan Shawwal, tahun ke-5 setelah hijrah; Perang Ban! Quraiza, tahun ke-5 setelah hijrah; Perang Khaebar, Rabi al-Awwal tahun ke-7 setelah hijrah, Perang Mu'ta, Jumad al-Awwal tahun ke-8 setelah hijrah, penaklukan kota Mekah (Fathu Makkah), pada bulan Ramadan tahun ke-8 setelah hijrah, Perang Hunain dan Ta'if, pada bulan Shawwal tahun ke-8 setelah hijrah, tahun pendelegasian72, dan Perang Tabuk pada bulan Rajab tahun ke-9 setelah hijrah.
Kendati musuh-musuh Nabi Muhammad dalam peperangan pada umum¬nya terdiri dari para penyembah berhala, pada hakikatnya termasuk juga orang¬orang Yahudi dan Kristen yang beraliansi dengan kekuatan kafir Quraish dalam melakukan oposisi terhadap orang Islam. Saya sebut beberapa kejadian dari peperangan ini bukan hendak memperpanjang pembahasan melainkan sekadar perbandingan merebaknya agama Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad dan sikap kacau bangsa Israel dalam pengembaraan di masa Nabi Musa dan perjuangan dua belas utusan peserta Nabi Isa.73
xi. Awal Pecahnya Perang Badar
Nabi Muhammad mendengar berita bahwa kafilah besar melewati rule dekat kota Madinah di bawah komando kepemimpinan Abu Sufyan. Nabi Muhammad berusaha menghadangnya namun sempat Abu Sufyan mencium jejak itu dan akhirnya mengubah rute perjalanan dengan mengirim seorang utusan ke Mekah agar menambah jumlah personal. Pasukan tempur dengan seribu tentara dan tujuh ratus unta serta pasukan kuda dipersiapkan atas saran Abu Jahl, suatu pertunjukan kekuatan raksasa yang hendak menggempur kota Madinah. Setelah menerima mata-mata tentang kafilah serta perubahan rule perjalanan dan pasukan militer Abu Jahl, Nabi Muhammad membuat pe¬ngumuman minta saran sahabafiya. Abu Bakr berdiri secara terhormat sikap terhormat yang kemudian diikuti oleh Umar. Kemudian al-Miqdad bin 'Amr berkata, "Wahai Nabi Allah, pergilah ke mana Allah memberitahukan anda dan kita akan bersamamu. Demi Tuhan, saya tidak akan berkata seperti ban! Israil74 kepada Nabi Musa, pergi bersama tuhanmu dan perangilah sedang kami akan duduk melihatnya,"75 Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika sekiranya engkau hendak membawa saya pada suatu tempat bernama Bark al-Ghimad76 saya akan berperang sampai mati bersamamu melawan mereka sehingga engkau dapat menguasainya." Kata-katanya terdengar oleh Nabi Muhammad dan ia berterima kasih dan berdoa kepadanya.
Lalu ia mengatakan, "Berilah aku nasihat wahai manusia sekalian," yang dimaksud adalah kaum Ansar. Ada dua alasan di belakang ini: (a). Mereka sebagai anggota masyarakat mayoritas; dan (b). Ketika kaum Ansar memberi janji setia di 'Aqaba, mereka menjelaskan bahwa mereka tidak berhak mendapat keselamatan sehingga ia memasuki daerah mereka. Saat itu mereka berjanji akan memberi proteksi sebagaimana mereka proteksi pada para keluarganya. Oleh karena itu, Nabi memberi perhatian jangan jangan mereka meliliatnya dengan sikap setengah hati terhadap penyerangan tentara Abu Jahl yang begitu kuat saat masih ada di luar perbatasan kota Madinah. Saat Nabi Muhammad mengutarakan kata-kata seperti itu, Sa'd bin Mu'adh berkata, "Demi Allah, mungkin yang dimaksud adalah kami?". Nabi menjawab, "Tentu, tanpa diragukan lagi." Kami percaya pada engkau, kami teguh terhadap kebenaranmu, kami bersaksi bahwa apa yang engkau dakwahkan adalah benar dan kami telah memberi sumpah setia untuk mendengar dan menaatinya. Oleh karena itu, pergilah ke tempat mana pun yang engkau kehendaki dan kami akan tetap bersamamu. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau menyeberangi lautan ini sekalipun, saya akan tetap mengarungi lautan dan tak akan ada seorang pun yang menunggu-nunggu di belakang. Kita tidak gentar sedikit pun menghadang musuh-musuhmu di esok hari. Kita cukup berpengalaman dan terlatih dan dapat dipercaya dalam pertempuran. Barang¬kali akan lebih baik saat Allah mengizinkan kita membuat presentasi sesuatu yang akan membuat engkau senyum, maka ajaklah menerima rahmat Allah.77 Nabi Muhammad, semakin yakin setelah diberi masukan oleh ucapan dari Sa'd dan kemudian siap menuju Badr dengan pasukan sebanyak 319 orang, dua ratus pasukan kuda dan tujuh puluh pasukan unta. Di sanalah mereka menghadang kekuatan tentara Quraish: seribu orang (enam ratus memakai baju tem¬pur anti peluru, seratus pasukan kuda dan ratusan pasukan unta.78 Pada hari terakhir karunia Allah tampak terang pada pihak tentara Muslim, dimana musuh-musuh kafir menderita kekalahan telak dan negara Islam mulai mencapai tingkat kedewasaan menjadi kekuatan yang terkenal di Semenanjung Arab.
xii. Terbunuhnya Khubaib bin 'Adil al-Ansari
Khubaib, seorang budak Muslim Safwan bin Umayya hendak dieksekusi di depan khalayak sebagai sikap balas dendam terhadap kematian ayahnya yang gugur sewaktu Perang Badr. Orang-orang berkumpul hendak menyaksi¬kan peristiwa itu. Di antara mereka adalah Abu Sufyan, yang menghujani berbagai makian terhadap Khubaib saat membawa keluar untuk dihabisi nyawanya, "Saya bersumpah karena tuhan Khubaib, adakah anda meng¬inginkan Nabi Muhammad hadir di tempat ini untuk kita penggal lehernya dan anda akan kami bebaskan hidup bersama keluarga? Khubaib menjawab, "Demi Tuhan, saya tidak akan mau melihat Nabi Muhammad hadir di sini dan saya lebih suka melihat ia menduduki kekuasaan daripada saya harus duduk di tengah keluarga." Abu Sufyan berkata sumbar, "Saya tidak pernah melihat seseorang mencintai orang lain seperti mereka mencintai Muhammad." Kemudian Khubaib dicincang anggota tubuhnya satu per satu sekecil biji gandum dan darah mengalir dari tiap penjuru sebelum ia dihabisi.79
xiii. Penaklukan Kota Mekah
Menurut persyaratan Perjanjian Hudaibiyyah (6 A.H.), semua suku diberi pilihan antara mengikuti Nabi Muhammad atau orang Quraish sesuai kehendak mereka. Suku Khuza'a memilih bergabung dengan Nabi Muhammad, sedang¬kan banu Bakr bergabung dengan pihak Quraish. Bani Bakr, mengkhianati perjanjian dengan bantuan pihak Qurasih menyerang suku Khuza'a. Orang¬orang suku Khuza'a menuju tempat suci Ka'bah dengan menyalahi tata cara yang telah disepakati tanpa jaminan keamanan. Mereka mengeluh menuntut keadilan. Nabi Muhammad menawarkan pada pihak Quraish dan ban! Bakr tiga pilihan, di mana yang terakhir meminta agar perjanjian Hudaibiyyah dibatalkan. Dengan sikap sombong, pihak Quraish mengambil pilihan ke-3. Setelah menyadari akan ketidakbijaksanaan pilihan, Abu Sufyan menemui Rasulullah minta agar perjanjian itu diperbarui akan tetapi kembali dengan tangan hampa. Nabi Muhammad bersiap-siap melakukan serangan ke Mekah dan seluruh kabilah yang telah mengucapkan sumpah setia pada umat Islam diminta bergabung pada pasukannya. Dua puluh satu tahun lamanya orang Quraish me'lakukan berbagai penindasan, penyiksaan, dan kekejaman terhadap umat Islam. Roda kini berputar dan mereka sepenuhnya menyadari arti persiapan yang dilakukan Rasulullah dan rasa cemas menghantui setiap rumah. Dengan pasukan sebanyak sepuluh ribu, Nabi Muhammad menuju Mekah pada hari ke sepuluh Ramadan, tahun ke-8 hijrah. Mereka melakukan camping di suatu tempat bernama Marr Az-Zahran dan orang Quraish memahami akan fakta ini. Nabi Muhammad bukan hendak mengejutkan pihak musuh dan tidak pula menghendaki terjadinya pertumpahan darah. la hanya menghendaki pihak Quraish menyadari sepenuhnya akan situasi sebelum mengambil pilihan perang yang tak berarti. Sementara Abu Sufyan dan Hakim bin Hizam mulai melakukan tugas mata-mata ketika mereka bertemu dengan 'Abbas, paman Nabi Muhammad. 'Abbas menasihati agar ia masuk Islam. Islamnya Abu Sufyan berarti pembuka jalan akan kemenangan tanpa pertumpahan darah.
Kemudian Abu Sufyan menuju Mekah dan memekik suara tangis dengan lantangnya, "Wahai orang Quraish, inilah Muhaminad telah hadir ke tempat kalian dengan pasukan yang tak mungkin kalian mampu melawan. Siapa hendak mengungsi di rumah Abu Sufyan la akan selamat, siapa yang ingin mengunci pintu rumah sendiri, juga selamat. Siapa yang masuk tempat suci Mekah juga selamat." Nabi Muhammad kembali ke tempat asal kelahirannya, sebuah kota yang membuat ia sengsara beberapa tahun menghadapi kekejaman dan siksaan. Sekarang pasukan tentara dapat memasuki Mekah tanpa darah setetes pun. Perlawanan kecil-kecilan terlihat di sana sini sedang Nabi Muhammad berdiri di depan pintu Ka'bah memberi kata sambutan dengan diakhiri seruan, "Wahai orang Quraish, apa yang ada di benak hati kalian tentang apa yang hendak saya lakukan terhadap kamu semua?" Mereka semua menjawab, "O, saudaraku yang mulia dan anak terhormat saudaraku! Saya tak mengharapkan sesuatu, kecuali rasa belas kasihmu." Lalu la menjawab, Pergilah kalian dengan bebas merdeka!"80
Itulah grasi ampunan yang la demonstrasikan pada tiap penduduk Mekah yang telah melakukan penyiksaan terhadap umat Islam selama dua puluh tahun.81 Dalam masa sepuluh tahun semua Jazirah Arab sejak dari Aman hingga ke Laut Merah, dari sebelah selatan Suriah ke Yaman jatuh di bawah kekuasaan umat Islam. Hanya satu dasarwarsa setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, la bukan saja seorang Nabi yang melaksanakan perintah ke¬tuhananan, melainkan juga seorang pemimpin yang tak ada bandingannya di seluruh semenanjung Arab yang mampu menyatukan mereka pertama kali dalam sejarah.


3. Meninggalnya Nabi Muhammad dan Kepemimpinan Abu Bakr

i. Abu Bakr Menangani Gerakan Pemurtadan
Meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun ke-11 hijrah telah me¬ngantarkan Abu Bakr sebagai pewaris negara Islam yang sedang mekar. Pada masa kegemilangan Nabi Muhammad, beberapa orang munafiq seperti Musailama al-Kadhab,82 memproklamasikan diri sebagai seorang nabi baru.83 Dengan me¬ninggalnya Nabi Muhammad, pemurtadan terjadi di sebagian besar wilayah Madinah.84 Beberapa kepala suku yang merasa kehilangan kedudukan selama kehidupan Nabi Muhammad mengikuti jejak Musailama ngaku-ngaku sebagai nabi baru, seperti Tulaiha bin Khuwailid dan seorang wanita yang mengaku sebagai nabi, seperti Sajah binti al-Harith bin Suwaid, pengikut agama Kristen.85
Keadaan sedemikian ruwet sehingga ‘Umar menyarankan agar Abu Bakr melakukan sikap kompromis untuk sementara waktu dengan mereka yang tak mau membayar zakat. la bersikeras clan menolak pendapat itu dan bahkan mengatakan, "Demi Allah, dengan sikap pasti, saya akan perangi setiap yang memutus shalat dari bayar zakat suatu keharusan bagi tiap orang kaya. Demi Allah, jika terdapat seutas benang pengikat- sebuah kosakata yang digunakan untuk mengikat kaki unta-yang telah ditentukan oleh Rasulullah untuk dikeluarkan zakat sedang mereka menolaknya, saya akan perangi perkara yang demikian."86 Abu Bakr berdiri sendiri dalam mempertahankan pendapat laksana gunung raksasa yang tak mungkin tergoyahkan sehingga tiap orang memihak padanya.
Dalam mengatasi penyelewengan, Abu Bakr bergegas ke Dhul-Qassa, yang berjarak lebih kurang enam mil dari kota Madinah.87 Beliau memanggil seluruh pasukan militer yang ada dan membagi-bagi ke dalam sebelas resimen dilengkapi seorang komandan terkemuka pembawa panji pada setiap bagian dengan tujuan tertentu. Khalid bin al-Walid ditugaskan mengatasi Tulaiha bin Khuwailid; `Ikrima putra Abu Jahl bersama Shurahbil untuk mengatasi Musailama; Muhajir putra Abu Umayyah ditugaskan menghadapi sisa-sisa kekuatan al-Aswad al-Ansari dan Hadramout; Khalid bin Sa'id bin al-'As diberi tugas mengatasi al-Hamqatain di perbatasan Syria, 'Amr bin al-'As diberi tugas mengatasi Quza' ah dan lainnya; Hudhaifa bin Mihsin al-Ghalafani ditugaskan ke Daba di Teluk Aman; `Arfaja bin Harthama ke Mahara; Turaifa bin Hajiz kepada ban! Sulaim; Suwaid bin Muqarrin pada Tahama di Yaman; al-'Ala' bin al-Hadrami diberi tugas ke Bahrain; dan Surahbil bin Hasana ke daerah Yamama dan Quda'a.88
Di antara itu semua, barangkali. peperangan terbesar yang paling sengit adalah terjadi di Yamama melawan Musailama dengan jumlah pasukan melebihi empat puluh ribu di mana memiliki hubungan antarsuku terbesar di wilayah itu. Ikrima pada mulanya diutus mengatasinya namun karena kemampuan yang terbatas ia dikirim ke wilayah lain. Shurahbil, yang ditugaskan membantu 'Ikrima, diberitahukan agar menunggu kehadiran komandan baru, Khalid bin al-Walid, yang akhirnya menewaskan pasukan militer Musailama yang begitu mengagumkan.
Setelah penumpasan para pemberontak dan kembalinya semenanjung Arab di bawah pengawasan tentara Muslim, Abu Bakr menugaskan Khalid bin al-Walid menuju Irak.89 Di sana mampu mengalahkan tentara Persia di Ubulla, Mazar, Ullais (pada bulan Safar tahun ke-12 Hijrah/bulan Mei tahun 633 Masehi). Walujah disulap menjadi sungai banjir darah (pada bulan yang sama), Amghisia, dan Hira (Dhul Qi'da pada tahun ke-12 Hijrah/Januari tahun 634 Masehi),90 tempat la mendirikan pusat pertahanan.91 Setelah Hira ia melaju ke Anbar (tahun 12 Hijrah/di musim semi tahun 633 Masehi) dan menemukan kota pertahanan dilindungi oleh parit-parit. Persyaratan perdamaian dapat diterima, akan tetapi ia terus menuju 'Ain at-Tamr melintasi padang pasir selama tiga hari ke arah barat Anbar.92 Di sana terdapat musuh campuran antara orang Persia dan orang-orang Kristen Arab yang sebagian mereka pengikut seorang wanita yang mengaku menjadi nabi, bernama Sajah;93 dalam per¬tempuran pasukan Kristen berperang lebih ganas dibanding tentara Persia. Keduanya kalah dan kota itu jatuh ke tangan kekuasaan umat Islam.
ii. Pasukan Militer Menuju Suriah
Ditaklukkannya semenanjung Arab di akhir tahun ke-12 Hijrah (633 Masehi.), Abu Bakr berencana menaklukkan Suriah. Dua pilihan komandan pertama, Khalid bin Said bin al-'As diikuti oleh 'Ikrima bin Abu Jahl, berhasil secara memadai. Kawasan itu dibagi empat zon dengan komandan militer masing-masing: Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah bertanggung jawab atas daerah Hims (di bagian Barat Suriah sekarang); Yazid bin Abi Sufyan bertanggung jawab atas Damaskus; 'Amr bin al-'As bertanggung jawab atas Palestina dan Sharhabil bin Hasana terhadap Jordania.
Musuh-musuh Romawi bertindak serupa membuat empat resimen. Abu Bakr kemudian mengubah strategi dan memerintahkan empat orang jendral agar bergabung bersama dan meminta Khalid bin al-Walid mengambil langkah cepat menuju Suriah membawa separuh pasukan yang ada dan bertindak sebagai panglima militer. Di sana ia mendapat kemenangan yang luar biasa se¬dang di tempat lain, tentara Muslim melaju cepat menghadapi musuh-musuhnya.
4. Negara-Negara dan Provinsi yang Ditaklukkan pada Masa Kepemimpinan 'Umar dan 'Uthman
o Yarmuk atau Wacusa, 5 Rajab, tahun ke-13 Hijrah/Sept. 634 Masehi;
o Peperangan Qadisiya, Ramadan, tahun ke-14 Hijrah/Nov. 635 Masehi.
o Ba'alback, 25 Rabi Awwal, tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;
o Hims dan Qinnasrin ditaklukan pada tahun ke-15 Hijrah/636 Masehi;
o Palestina dan Quds (Jerusalem) dikuasai pada Rabi II, tahun ke-16 Hijrah/637 Masehi;
o Panaklukan Madian, tahun ke-I5 hingga ke-16 Hijrah/636-7 Masehi;
o Jazira (Ruha, Raqqa, Nasibain, Harran, Mardien) sebagian besar penduduknya terdiri orang Kristen, ditaklukkan pada tahun ke-18 hingga ke¬20 Hijrah/639-40 Masehi;
o Penaklukan Persia: Nehavand, ke-19 hingga ke-20 Hijrah/640 Masehi;
o Mesir (tidak termasuk Iskandariya) pada tahun ke-20 Hijrah/640 Masehi;
o Iskandariyya pada tahun ke-21 Hijrah/641 Masehi;
o Barqa (Libya) pada tahun ke-22 Hijrah /643 Masehi;
o Tripoli (Libya) pada tahun ke-23 Hijrah/643 Masehi;
o Cyprus, pada tahun ke-27 Hijrah /647 Masehi;
o Armenia, pada tahun ke-29 Hijrah /649 Masehi;
o Dhat as-Sawari, pada tahun ke-31 Hijrah /651 Masehi;
o Azerbaijan, Deulaw, Marw (Merv), dan Sarakhs, pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi;
o Kirman, Sijistan, Khurasan, dan Balkh, juga pada tahun ke-31 Hijrah/651 Masehi.
Setelah memerintah selama 395 tahun, tirai dinasti Sasanid jatuh ke tangan bangsa yang baru berusia tiga dasawarsa yang masih belum memiliki pengalaman administrasi dan peperangan yang dapat dibanggakan. Hal ini tidak mungkin terjadi melainkan bagi umat Islam yang memiliki keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, dan ketinggian agama-Nya.
Menurut Prof Hamidullah,94 daerah yang ditaklukkan selama 35 tahun setelah Hijrah (di akhir kekuasaan 'Uthman) dibagi sebagai berikut:
Daerah yang dikuasai sejak Masa Nabi Muhammad
Masa Nabi Muhammad hingga tahun 11 hijriah 1,000,000 mil 2
Abu Bakr as-Siddiq tahun 11-13 hijriah 200,000 mil 2
Umar bin al-Khattab tahun 13-25 hijriah 1,500,000 mil 2
'Uthman bin ‘Affan tahun 25-35 hijriah 800,000 mil 2
Jumlah 3,500,000 mil 2
Nabi Musa dan kedua belas suku bangsa Israel berkelana di Gurun Sinai selama empat puluh tahun tidak lebih dari seratus mil sebagai siksaan karena tidak mengindahkan perintah Allah ; dalam masa yang singkat pasukan tentara Islam mampu menaklukkan tiga setengah juta mil persegi yang sekarang disebut dengan daerah Timur Tengah.
5. Kesimpulan
Di samping luasnya wilayah teritorial yang telah ditaklukkan oleh pasuk¬an tentara Muslim, baik melalui peperangan maupun deputasi (pengutusan), Nabi Muhammad wafat mewariskan dua harta pusaka umat Islam: Kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah.95 Tugas mulia dilanjutkan oleh ribuan sahabat yang secara pribadi mengenal, tinggal, dan makan bersama beliau serta mengalami pedihnya rasa lapar, tanpa menghunus mata pisau pada pihaknya. Mereka telah berikrar janji setia dalam menghadapi berbagai kepentingan hidup tiap saat tanpa perasaan gentar sedikit pun. Kita hanya dapat menduga jumlah mereka yang kecil dan kita dapat membaca pengikut pasukan Musailama yang sebanyak empat puluh ribu hanyalah selusin di antara mereka yang terlibat dalam pertempuran dan menderita kekalahan tak berdaya. Adalah tidak mungkin mereka menghadang enam ratus ribu pasukan tempur melintasi lautan beserta Nabi Musa, seperti tercatat dalam cerita exodus, akan tetapi jumlah besar seperti itu hanya berkelana tak menentu di sekitar gurun pasir di bawah terik matahari. Sedangkan para sahabat nabi mampu menuai berkah kemenangan yang luar biasa. Selama penjagaan dengan begitu ketat terhadap agama baru, seluruh sistem manajemen dibangun di atas fondasi Al-Qur'an dan Sunnah sehingga penyelewengan tidak diberi peluang berkembang: Lingkungan yang seperti itu membuktikan sikap setia terhadap pemeliharaan teks kitab umat Islam dalam bentuknya yang asli, seperti yang hendak kita lihat berikutnya.

Endnotes:
1. Jawad 'Ali, al-Mufassal fI Tarikh al-Arab Qabl al-Islam, i.:569.
2. Ibid. i:230-31.
3. Ibid. i:231-232.
4. Ibid. i:235.
5. Ibid. i:235.
6. Ibid. i:238.
7. Ibid. i:232-233.
8. Ibid. i:238.
9. M. Mohar 'A17, Siratan-Nabi,jilid.lA, hlm.30-31, dikutip dari buku P.K. Hitti, History of the Arabs, hlm.8-9.
10. Jawad 'All, al-Mufassal, i:223.
11. Ibid, i:224.
12. Ibid. i:630. Kitab Perjanjian Lama menjelaskan bahwa Bangsa Arab dan Yahudi sama-sama keturunan Shem, putra Nuh.
13. Versi James , Genesis 21:10.
14. Al_Bukhari, Sahih, al-Anbiya'. hadith no.3364-65 (dengan komentar Ibn Hajr).
15. Qur'an 37:102-107.
16. Qur'an, 14:37.
17. Qur'an, 14:37.
18. M. Hamidullah, "The City State of Mecca", Islamic Culture, jilid.l2 (1938), hIm.258.
19. Ibid. Mengambil pendapat Lammens dalam karyanya, La Meqque a La Vielle de L'Hegire (hlm. 234, 239) serta lainnya.
20. Jawad 'Ali, al-Mufassal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, i:658, Ibid., i: 614-18 memuat informasi yang amat penting tentang pemukiman Bangsa Yahudi di Yathrib dan Khaibar.
21. M. Mohar 'Ali, Sirat an-Nabi, jilid.1A, hlm. 32.
22. Ibid., jilid.1A, hlm.32.
23. Ibn Qutaiba, al-Ma'arif, hIm.640.
24. M. Mochtar 'Ali, Sirat an-Nabi, jilid.lA, hlm.32.
25. Ibid., jilid.1A, hlm..32.
26. Ibid., jilid.1A, hlm.32.
27. Ibid., jilid.1A, p.32.
28. Ibn Qutaiba, al-Ma'arif, hlm.640-41. Imperium Byzantin memiliki prospek baru dalam memperpanjang pengaruhnya terhadap kota Mekah beberapa generasi kemudian saat seorang penduduknya, Uthman ibn al-Huwairith dari kabilah Asad, memeluk agama Kristen. Rajanya meletakkan tahta kebesarannya di kepala dan mengirimkannya (dia) memasuki Mekah dengan ditemani oleh Usase, minta penduduk Mekah menerimanya sebagai raja. Akan tetapi kabilah mereka sendiri menolaknya. (The City State of Mecca, hlm.256-7, dikutip oleh as-Suhaili (Raudul unf, i:146) dan lainnya.
29. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 1-2, hlm. 105-108. Untuk tanggal seperti tampak dalam tabel, harap dilihat pada karya Nabia Abbott, The Rise of the North Arabic Script and Its Kuranic Development, with a full Description of the Kuran Manuscripts in the Oriental Institute, The University of Chicago Press, Chicago, 1938, hlm. 10-11. Abbott menyebut ketidak setujuannya di antara kaum orientalis tentang tahun.
30. lbn Hisham, Sira, ed. By M. Saqqa, 1. al-Ibyari dan ‘A. Shalabi, 2nd edition, Mustata al-Babi al-Halabi, publishers, Cairo, 1375 (1955), jilid.1-2, hlm. 117-8. Buku ini dicetak dalam dua bagian, bagian pertama terdiri atas dua jilid, dan bagian kedua terdiri dari jilid 3-4. Halaman dari kedua bagian tersebut tertulis kata terus-menerus.
31. Ibn Qutaiba, al-Ma'arif, hlm.640-41.
32. Ibn Hisham, Sira, jilid.3-4, hlm.315.
33. Saat itu Ka`bah dikelilingi ratusan patung berhala.
34. The City State of Mecca, hlm.261-276.
35. William Muir, The Life of Mahomet, 3rd edition, Smith, Elder, & Co., London, 1894, hlm.
xcvii
36. Ibid. hlm. xcvii.
37. Ibid. hlm. xcvi.
38. Ibn Hisham, Sira, jilid.1-2, hlm. 137.
39. Ibid. hlm. 1-2, hlm. 137.
40. Ibid. hlm. 1-2, hlm. 137.
41. Ibid. hlm. 1-2, p.142.
42. Sistem pengambilan calon (kandidat) dilakukan secara random dengan menggunakan anak panah ketuhanan yang disimpan di bawah proteksi tuhan tertentu.
43. William Muir, The Life of Mohomet, hlm. Ixxii-Ixxxiii.
44. Ibid., hlm. lxxxiv. Pendapat ini terasa benar karena sejak beberapa masa ketika Kristen mulai melangkah disebabkan kekejman penjajahan (by dint of Colonialist coercion.
45. Ibid., hlm. xxxiv-lxxxv
46. Sistem kalender Kristen dibuat atas asas praduga. Dibuat berdasar model kalender Arab, hal ini tidak pernah menjclma dalam penggunaan secara umum sehingga, sekurang-kurangnya, sepuluh abad setelah kelahiran Jesus berlalu mengalami perubahan-perubahan (modifications). Kalender Gregoria seperti yang digunakan sekarang bermula dari tahun 1582 C.E./990 A.H. kctika diadopsi oleh negara-negara Katolik pada masa itu atas keputusan dari Pope Gregory XIII, dalam Papal Bull (?) pada tanggal 24 Februari 1582. (Lihat Khalid Baig, "The Millennium Bug" , Impact International, London, jilid.30, no. 1, Januari 2000, hlm. 5) Penulis modern mengetengahkan tahun ke belakang secara fiktif, yang hanya membuat permasalahan barn dalam menentukan tahun kejadian.
47. Al-Bukhari, Sahih, Ijara:2.
48. Ibn Hisham, Sira, jilid 1-2, hlm. 187-189.
49. Ibid. jilid.1-2, hlm. 197.
50. Ibid. jilid.1-2, hlm. 196-7.
51. Ibn Hajar
52. Muslim, Sahih, Fada'i1:2:2, hlm. 1782.
53. 'Urwah bin az-Zubair, al-Maghazi, kompilasi dilakukan oleh by M.M. al-A'zami, Maktab al-Tarbiya al-'Arabiyyah Liduwal al-Khalij, 1st edition, Riyad, 1401 (1981), hlm.100.
54. Ibn Hajar, Fathul Bari, i:23.
55. Sara 96, lihat al-Bukhari, Sahih, Bad' al-Wahy.
56. Qur'an, 96:1-5.
57. Ibn Ishaq, as-Seyr wa al-Maghazi, versi Ibn Bukair, hlm.139. Di sini Abu Bakr dengan pertanyaannya tidak berarti bahwa Nabi Muhammad pernah mengikuti cara-cara orang kafir. Ini semata-mata berarti, 'Adakah anda mengutuk secara terbuka?'
58. Ash-Shami, Subul al-Huda, iii: 133.
59. Qur’an 15:94-95.
60. ‘Urwah, al-Maghazi, hlm.104.
61. Ibn Hisham, Sira, jilid 1-2, hlm.322-323; Ibn Sayyid an-Nas, 'Uyun al-Athar, i:l 15.
62. ‘Urwah, al-Maghazi, hlm.l 11.
63. Qur’an, 41:1-5.
64. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 293-94. Dalam terjemahan baik yang tersebut di sini maupun di tempat lainnya, kami merujuk pada karya terjemahan Guillaume.
65. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 350-51; Ibn Ishaq, as-Seya wa al-Maghazi, versi Ibn Bukair, hlm.,154-167.
66. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 433.
67. Ibid. jilid 1-2, hlm. 442.
68. Ibid. jilid.1-2, hlm.485.
69. Ibid. jilid.1-2, hlm.486.
70. M. Hamidullah, the First Written Constitution in the World, Lahore, 1975.
71. S.H. (Setelah Hijrah) sebagai kalender umat Islam. Hal ini dibuat sejak kekuasaan khalifah ke-2, 'Umar (dan bahkan kemungkinan lebih dulu), yang dimulai sejak hijrah Nabi Muhammad ke Madinah.
72. Kendati tidak terjadi peperangan, saya memasukkannya karena ia menandai penerimaan secara besar-besaran dan hangat penerimaan orang kafir Arab terhadap Islam. Ghazwa berarti mengeluarkan energi untuk memasarkan Islam dan tahun pendelegasian merupakan contoh yang menggembirakan tentang Kabilah Arab yang mendatangi Nabi Muhammad, dan membantu penyebaran agama Islam dengan mau memeluknya secara sukarela.
73. Harap dilihat bab ke-14 dan 16.
74. Anak cucu Israel.
75. Qur'an, 5:24.
76. Sebuah tempat di Yaman. Orang lain menyebut sebagai "farthest stone". Terlepas betul maupun salah ia berarti "sejauh anda dapat pergi".
77. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm.614-5.
78. Mahdi Rizqallah, as-Sira, hlm.337-9.
79. 'Urwah, al-Maghazi, hlm.177. Khubaib dan Zaid ditawan pada incident yang sama dan keduanya menjadi shahid di Tan'im. Menurut karya Ibn Ishaq (Ibn Hihsam, Sira, jilid 3-4, h1m.172 bahwa jawaban ini berkaitan dengan Zaid.
80. Ibn Hisham, Sira, jilid 3-4, hlm.389-412.
81. Bosworth Smith berkata, 'Jika ia menggunakan pelindung muka (masker) secara keseluruhan, ia dalam semua peristiwa telah membuangnya. Sekarang merupakan timing yang tepat untuk memuaskan ambisinya dan mengenyangkan nafsu penghabisan bukan malah melalap rasa dendam. Adakah terdapat hal seperti itu di tempat lain? Baca sejarah masuknya Nabi Muhammad ke kota Mekah di waktu yang sama lihat cerita Marius Sulla saat memasuki Roma. Kami akan dalam posisi yang tepat menghargai keluhuran budi dan sikap modernisasi Nabi Muhammad di Jazirah Arabia.
82. Di wilayah Yamama, sebuah dataran tinggi di pusat timur jauh (north east) wilayah semenanjung Arab.
83. Umumnya istilah apostasy merupakan sikap ingkar atau berpalingnya seseorang dari agamanya.
84. Beberapa kalangan menolak membayar zakat pada pemerintahan pusat.
85. At-Tabari, Tarikh, iii:272.
86. Muslim, Sahih, Iman:32.
87. At-Tabari, Tarikh„ iii:248.
88. At-Tabari, Tarikh„ iii:249, lihat juga W. Muir, Annals of the Early Caliphate, hlm.l7-18.
89. Menurut sejarawan terkemuka, Khalifa bin Khayyat, peristiwa ini terjadi pada tahun ke-12 setelah hijrah (Tarikh, i:100).
90. H. Mones, Atlas of the History of Islam, az-Zahra, for Arab Mass Media, Cairo, 1987, hlm.128.
91. W. Muir, Annals of the Early Caliphate, hlm.81.
92. Ibid., hlm.85.
93. Ibid., hlm.85.
94. M. Hamidullah, al-Watha'iq as-Siyasiyya, hlm.498-99.
95. Sunnah mrupakan tradisi otentik Nabi Muhammad, kesemuanya menyangkut ucapan dan perilaku (ditambah dgn aksi orang lain yang sesuai dengan izinnya). Ratusan ribu dari tradisi ini lahir dan satu tradisi diistilahkan dgn hadith.

BAB 3 :
WAHYU DAN NABI MUHAMMAD


Dari sejarah Islam kita akan melihat jejak risalah Nabi Muhammad, sifat dan kaitannya dengan ajaran para nabi terdahulu. Allah swt. menciptakan umat manusia dengan satu tujuan agar menghambakan diri kepada-Nya, meski la tidak memerlukan seseorang agar menyembah karena tidak akan menambah arti kebesaran-Nya. Tata cara penyembahan tidak diserahkan pada individu, namun secara eksplisit dijelaskan oleh para nabi dan rasul-Nya. Melihat bahwa semua rasul menerima tugas dari Pencipta yang sama, inti risalah tetap sama saja, hanya beberapa penjelasan praktis yang mengalami perubahan. Nuh (Noah), Ibrahim (Abraham), Isma'il (Ishamel), Ya'cub (Jacob), Ishaq (Isaac), Yusuf (Joseph), Dawud (David), Sulaiman (Solomon), `Isa (Jesus), dan banyak lagi yang tak terhitung, Allah mengutus dengan risalah yang ditujukan kepada masyarakat tertentu dan berlaku pada masa tertentu pula. Dalam perjalanan mungkin saja terjadi penyimpangan yang membuat pengikutnya menyembah berhala, percaya pada klenik dan khurafat, dan melakukan upaya pemalsuan. Kehadiran Nabi Muhammad, dengan risalah yang tidak tersekat dalam batas kebangsaan dan waktu tertentu, suatu kepercayaan yang tidak akan mungkin dihapus karena untuk kepentingan umat manusia sepanjang zaman.
Islam menganggap kaum Yahudi dan Nasrani sebagai "ahli kitab". Ketiga agama ini memiliki kesamaan asal usul keluarga dan secara hipotesis menyembah tuhan yang sama, seperti dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan kedua putranya, Isma'il dan Ishaq. Berbicara masalah agama, tentu kita dihadapkan pada peristilahan yang umum kendati kata-kata itu tampak mirip, bisa jadi memiliki implikasi yang berlainan. Misalnya, Kitab suci Al-Qur'an menjelas¬kan secara rinci bahwa segala sesuatu di alam ini diciptakan untuk satu tujuan agar menyembah Allah, tetapi dalam mitologi Yahudi semua alam ini dicipta¬kan untuk menghidupi anak cucu bani Israel saja.1
Selain itu, nabi-nabi ban! Israel dianggap terlibat dalam membuat gambaran tuhan-tuhan palsu (Aaron) dan bahkan dalam skandal perzinaan (David), sedangkan Islam menegaskan bahwa semua nabi-nabi memiliki sifat kesalehan. Sementara, konsep trinitas dalam agama Kristen-dengan anggapan Jesus seperti terlihat dalam gambaran ajaran gereja sama sekali bertentangan dengan keesaan Allah dalam ajaran Islam. Kita akan paparkan sifat kenabian dalam ajaran Islam yang akan jadi dasar utama adanya perbedaan nyata antara Islam dan kedua agama itu yang mengalami pencemaran dari konsep monoteisme dan akan kita jelaskan bahwa Allah %%% menentukan ajaran ideal untuk seluruh alam raya dalam bentuk wahyu terakhir.
1. Pencipta dan Beberapa Sifat-Nya
Jelas bahwa kita tidak menciptakan diri kita sendiri dan tak ada makhluk mana pun yang mampu menciptakan dirinya dari sesuatu tanpa wujud perantara. Untuk itu, Allah menjelaskan dalam kitab suci Al-Qur'an,
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"2
Semua makhluk berasal dari Sang Pencipta,
"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala se¬suatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu."3
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."4
Allah sebagai Pencipta adalah Mahaunik dan tidak ada menyerupai-Nya. Dia tiada dilahirkan clan satu-satunya Tuhan,
"Katakanlah, 'Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia'."5
Dia Maha Pemurah, Pengasih, dan Penyayang. Dia membalas semua kebaikan dan menerima tobat orang yang benar-benar menyesali perbuatannya. la memberi ampunan pada siapa yang ia Kehendaki dan tidak akan memberi ampunan pada setiap menyekutukan-Nya clan akan mati dalam keadaan dosa yang tak terampuni.
"Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Se¬sungguhnya Allah mengampuni dosa-2 semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”6
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."7
i. Tujuan Penciptaan Manusia
Allah mencipta manusia semata-mata agar menghambakan diri kepada-Nya,
"Dan Aku tidak menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."8
Dengan memberi makan, air minum, tempat tinggal, reproduksi keturun¬an, dan banyak lagi lainnya yang berkaitan dengan kehidupan manusia, me¬nurut Islam, dapat ditransformasikan sebagai amal 'ibadah jika disertai niat memberi pelayanan terhadap Allah.
ii. Jejak Risalah Para Nabi
Dalam jiwa manusia, Allah meniupkan sifat naluri yang mengantarkan penghambaan kepada-Nya sejauh tidak ada campur tangan pihak luar.9 Guna mengatasi kemungkinan adanya pengaruh luaran, Allah swt. mengutus para rasul dari masa ke masa agar terhindar dari penyembahan berhala atau pun khurafat dan membimbing manusia pada penyembahan yang benar.
"....dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul."10
Allah sebagai Sang Pencipta membersihkan para utusan-Nya dari segala bentuk perilaku jahat serta memberi kebaikan budi. Mereka sebagai model per¬contohan dan memerintahkan semua pihak agar mengikuti jejak kepe¬mimpinannya dalam menghambakan diri pada Allah swt.. Esensi risalahnya tak mengenal batas waktu sepanjang sejarah.
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'.“11
Semua risalah para nabi adalah,
"Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepada-Ku."12
Ungkapan singkat "tiada tuhan melainkan Allah"adalah kata kunci yang menyatukan semua para nabi sejak Nabi Adam hingga Muhammad. Kitab AI¬Qui an menyebut tema ini berulang kali meminta perhatian khususnya Yahudi dan Nasrani.
2. Rasul Terakhir
Di daerah tandus lagi panas, Mekah, Nabi Ibrahim pernah bermimpi bahwa seorang dari bangsa Nomad akan tinggal di lembah tandus itu yang akan menggembirakan Sang Pencipta:
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (AI-Qur'an) dan Al-Hikmah (As¬Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."13
Dan waktu yang telah ditentukan, di tempat yang tandus ini, Allah mengabulkan doa yang disemburkan Nabi Ibrahim lahirnya nabi terakhir untuk seluruh kemanusiaan.
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."14
"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi pe¬ringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui."15
Sebagaimana yang Allah kehendaki, tibalah seorang penggembala kam¬bing buta huruf diberi tugas menerima, mengajar, dan menyebarkan wahyu hingga berakhirnya sejarah: suatu beban yang lebih berat dari apa yang telah diberikan pada para rasul sebelumnya.
3. Nabi Muhammad Menerima Wahyu

Tentang diturunkannya wahyu AI-Qur'an dapat dilihat pada ayat 185 surah al-Baqarah,
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) AI-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan penje]asan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)."
"Sesungguhnya telah Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan."
Dalam rentang masa dua puluh tiga tahun, Kitab suci Al-Qur'an diturunkan secara bertahap memenuhi tuntutan situasi dan lingkungan yang ada. Ibn 'Abbas (w. 68 hijriah), seorang ilmuwan terkemuka di antara sahabat rasul mempertegas bahwa Al-Qur'an an diturunkan ke langit terbawah (bait al-`izzah) dalam satu malam yang kemudian diturunkan ke bumi secara bertahap sesuai dengan keperluan.17
Penerimaan wahyu Al-Qur'an ada di luar jangkauan penalaran akal manusia. Selama empat belas abad yang silam tak ada seorang rasul yang muncul, dan dalam memahami fenomena wahyu kita semata-mata merujuk pada laporan authentic dari Nabi Muhammad dan orang-orang kepercayaan yang menyaksikan kehidupan beliau.18 Riwayat ini mungkin dapat dipakai sebagai cermin tentang apa yang dialami oleh nabi-nabi sebelumnya dalam menerima komunikasi ketuhanan.
• Al-Harith bin Hisham bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu itu sampai padamu?" Beliau menjawab, "Kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu paling dahsyat yang sampai pada saya, kemudian lenyap dan saya dapat mengulangi apa yang dikatakan. Kadang-kadang Malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata padaku dan saya dapat memahami apa yang dikatakan."19 ‘A'isha menuturkan, "Sungguh aku pernah melihat Nabi saat wahyu turun kepadanya di mana pada hari itu beliau merasa kedinginan sebelum wahyu berhenti dan dahinya penuh keringat."20
• Ya'la pernah sekali bercerita pada `Umar tentang keinginannya melihat Nabi Muhammad menerima wahyu. Pada kesempatan lain ‘Umar memanggil dan ia menyaksikan Nabi Muhammad wajahnya kemerahan, bernapas sambil ngos-ngosan. Lalu tampak sembuh (dari gejala itu).'21
• Zaid bin Thabit menjelaskan, "Ibn Um-Maktum mendatangi Nabi Muhammad saat beliau mendiktekan ayat ini, "tak akan sama di antara orang-orang yang beriman yang duduk (tanpa kerja)'.22 Saat mendengar ayat tersebut Ibn Um-Maktum berkata, 'O Nabi Allah, adakah berarti saya mesti ikut ke medan perang (jihad).' Dia seorang yang buta. Kemudian Allah mewahyukan (ayat peringatan) kepada Nabi Muhammad. Saat kakinya berada di atas kakiku, begitu beratnya dan saya khawatir kakiku terasa akan putus."23
• Terdapat perubahan psikologis terhadap Nabi Muhammad selama menerima wahyu akan tetapi dalam semua waktu cara berbicara dan lainnya tetap seperti biasa. la tidak pernah tahu bila dan di mana wahyu itu akan sampai, seperti tampak dalam semua kejadian. Di sini saya berikan dua contoh sebagai bukti.
• Dalam masalah beberapa orang-orang mengumpat tentang istri rasul, 'A'isha, mereka menuduh melakukan perbuatan tak terpuji dengan seorang sahabat. Nabi Muhammad tidak menerima wahyu seketika. Sebenarnya, beliau cukup pedih merasakan penderitaan selama sebulan karena berita gosip yang menimpa sebelum Allah memberi penjelasan tentang kesuciannya:
"Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' "24
• Sementara dalam masalah Ibn Um-Maktum (keberatan melakukan jihad karena buta), Nabi Muhammad menerima wahyu secara spontan:
"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya."25
i. Permulaan Wahyu dan Mu`jizat Al-Qur'an 26
Peranan Nabi Muhammad dipersiapkan secara bertahap, suatu masa yang penuh kebimbangan dalam melihat berbagai kejadian dan visi pandangan yang ada, juga ikut ambil bagian dalam mempersiapkan kematangan jiwanya dimana Jibril berulang kali hadir memperkenalkan diri.27 Pertama kali muncul di depan Nabi Muhammad saat ia berada di Gua Hira, Jibril minta membaca dan beliau mengatakan tak tahu. Malaikat mengulangi permintaannya tiga kali dan ia menjawab dalam keadaan serbabingung dan ketakutan sebelum mengetahui kenabian yang tak terduga dan pertama kali mendengar Al-Qur’an :
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan mulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan peran¬taraan kalam."28
Dikejutkan oleh perasaan dengan melihat sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiran tentang tugas tersebut, Nabi Muhammad kembali dalam keadaan gemetar menemui Khadijah minta agar dapat menghibur dan mengembalikan ketenteraman jiwanya. Sebagai seorang Arab, tentu ia paham susunan ekspresi syair dan prosa, akan tetapi tak terlintas di otak sama sekali tentang ayat-ayat wahyu Al-Qur'an yang ia terima. Sesuatu yang tak pernah terdengar sebelumnya serta susunan kata-kata yang tak ada bandinganya. Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar yang pertama ia terima. Pada suatu waktu di tempat yang berbeda, Nabi Musa diberi mukjizat-sinar cahaya memancar dari tangan, tongkat menjadi ular raksasa sebagai tanda kenabiannya. Berbeda dengan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad dari gua dalam sebuah gunung, Malaikat meminta si buta huruf agar membaca. Mukjizatnya bukannya seekor ular naga, benda logam, kemahiran menyembuhkan penyakit, menghidupkan kembali orang yang sudah mati, melainkan kata-kata ajaib yang tak pernah terlintas di telinga siapa pun.
ii. Nabi Muhammad dan Pengaruh Bacaan Al-Qur'an terhadap Orang Kafir
Perjalanan waktu juga mengambil bagian penting persiapan Nabi Muhammad dalam mengenalkan ajaran Islam pada kenalan terdekat. Allah swt. membesarkan hatinya agar membaca ayat-ayat Al-Qur'an di keheningan malam.
"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah AI-Qur'an itu dengan perlahan-lahan."29
Sekarang hendak kita telusuri efek yang begitu dalam dari bacaan Al¬ Qur'an, seperti yang dialami para pemuja patung berhala. Ibn Ishaq menulis:
Muhammad bin Muslim bin Shihab az-Zuhri bercerita bahwa Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisham, dan al-Akhnas bin Shariq bin ‘Amr bin Wahb ath-Thaqafi (sekutu kaum bani Zuhra) suatu malam jalan jalan mencuri dengar bacaan AI-Qur'an an Nabi Muhammad di rumahnya. Tiap tiga orang dalam kelompok berusaha memilih tempat yang safe dan tak seorang pun di antara mereka mengetahui keberadaan yang lain. Setelah fajr mereka bubar dan satu sama lain bertemu saat kembali ke rumah.
Sebagai anggota komplotan, masing-masing menceritakan peng¬alaman, "Jangan engkau ulangi lagi perbuatan ini, nanti akan terkesima." Mereka pulang dan malam berikutnya kembali mencuri dengar, dan bercerita pengalaman satu sama lain di waktu fajr. Pada malam ke tiga, mereka kumpul pada pagi hari sambil berkata, "Kita tak akan meninggalkan tempat kecuali setelah berikrar sungguh-sungguh tak akan mengulang lagi." Setelah berjanji mereka bubar. Beberapa saat kemudian dengan membawa tongkat, al-Akhnas pergi ke rumah Abu Sufyan dan menanyakan apa yang telah mereka dengar dari Nabi Muhammad. Abu Sufyan menjawab, "Demi Allah, aku mendengar sesuatu yang saya tidak dapat memahami artinya dan entah apa yang mereka maksudkan."
Al-Akhnas berkata, "Persoalannya sama seperti yang saya alami". Kemudian ia pergi mendatangi rumah Abu Jahl menanyakan hal yang sama. la menjawab, "Apa sebenarnya yang saya dengar, kami dan suku kabilah 'Abd Manaf selalu kompetisi dalam meraih ketinggian keduduk¬an di tengah masyarakat. Mereka memberi makan orang miskin dan kami juga melakukan hal yang sama. Mereka terlibat menyelesaikan persoalan orang lain, demikian juga kami. Mereka menunjukkan sikap murah hati terhadap orang lain, kami juga mengikutinya. Kami berpacu seperti dua pasukan yang melangkah sama cepatnya. Tiba-tiba mereka menyatakan, 'Kami memiliki seorang nabi yang telah menerima wahyu dari langit.' Bila, kita hendak memiliki hal seperti itu? Saya bersumpah, tak mungkin pernah percaya padanya dan tak mungkin pula aku memanggilnya sebagai orang jujur."30
Di samping kebencian yang luar biasa dari pihak orang kafir, Nabi Muhammad tetap meneruskan bacaan dan jumlah para pencuri dengar semakin bertambah dan herannya, setiap orang amat khawatir perbuatan mencuri dengar AI-Qur'an akan terungkap oleh orang lain.31 Nabi Muhammad dengan penentangnya pernah diminta berdebat tentang keesaan Allah karena AI-Qur'an bukan ciptaan manusia, cukup sebagai bukti secara akal tentang wujud keesaan Allah swt.. Namun demikian, karena bacaan yang awalnya dari keheningan malam clan berubah menjadi pada siang-hari dan didengar oleh orang banyak, maka rasa kekhawatiran orang Mekah semakin menjadi jadi.
Melalui pendekatan yang cepat dan bijak, sekelompok orang Quraish mendatangi al-Walid bin al-Mughira, orang yang cukup bergengsi di ma¬syarakat. Lalu ia menyampaikan pendapatnya di depan mereka, "Waktu pertunjukan telah tiba dan wakil-wakil bangsa Arab akan hadir menemui Anda. Mereka ingin mendengar tentang teman anda, setuju sajalah pada satu pendapat tanpa perselisihan di mana tak akan seorang pun di antara kita bercerita bohong pada yang lain." Mereka berkata, "Berikan pendapat anda tentang dia (Muhammad)," dan ia menjawab, "Tidak, lebih baik anda bicara dan saya mendengar." Maka berkata, "la tidak lebih dari seorang peramal." Al-Walid menjawab, "Demi Tuhan, dia bukan itu, dia bukannya seorang yang pandai membuat irama pantun, seperti juru ramal." Kalau demikian halnya, ia ter¬pengaruh oleh seorang peramal." "Bukan, ia bukan orang seperti itu. Kami me¬lihat sendiri tidak ada gerak-gerik tak karuan maupun jampi jampi, seperti juru ramal." "Jika demikian, ia seorang penyair." "Bukan, dia bukan itu, kami mengerti semua syair dan permasalahannya. Jika demikian halnya ia mungkin tukang sihir." "Bukan, kami telah melihat tukang sihir dan hasil kerjanya. Di sini (Muhammad) tidak pernah meludah-ludah, seperti juru sihir dan mengikat¬ikat tali buhul." "Jika demikian, lantas apa yang pantas hendak kita sebut, Wahai Abu `Abd Shams?" la menjawab, "Demi Tuhan, kata-katanya indah, akarnya seperti pohon kurma yang dahannya sangat berguna, dan semua apa yang anda katakan akan dikenal sebagai cerita palsu. Yang mungkin mendekati kebenaian adalah seperti yang anda sebut ia seorang sahir pembawa risalah yang memisahkan seseorang dari ayah, saudara, atau pun istri, dan keluarganya."32
Hal serupa dapat kita lihat Abu Bakr, ia membangun sebuah masjid di Mekah di sebelah rumah tempat ia menjalankan shalat tiap waktu dan membaca Al-Qur'an. Orang-orang kafir menemui Ibn Addaghinna, orang yang memberi perlindungan pada Abu Bakr, minta agar tak lagi membaca AI-Qur'an karena banyak kaum wanita dan anak-anak yang mencuri dengar bacaan dan ternyata mudah terpengaruh.33

4. Peranan Nabi Muhammad terhadap Al-Qur'an

Al-Qur'an secara konsisten menggunakan kosa kata tala, yutla, atlu, tatlu, yatlu etc. Kita dapat baca ayat-ayat tersebut dalam 2: 129, 2: 51, 3: 164, 22: 45, dan 62: 2 serta banyak lagi lainnya. Kesemuanya memberi isyarat akan peranan Nabi Muhammad dalam mengenalkan wahyu ketuhanan ke seluruh masyarakat. Namun demikian bacaan saja dirasa belum cukup jika tak disertai perintah. Tanggung jawab Nabi Muhammad terhadap kalamullah dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut, di mana pertama dapat dilihat dalam doa Nabi Ibrahim,
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan me¬ngajarkan kepada mereka AI-Kitab (AI-Qur'an) dan hikmah serta menyucikan mereka."34
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul diri golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah...."35
"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan agama kamu al-kitab dan al-hikmah.... "36
"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila _Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah pen¬jeiasannya."37
Ayat-ayat tersebut menunjukkan kepedulian Nabi Muhammad dalam merekam hafalan AI-Qur'an. Beliau tampak tergesa-gesa dalam melalap hafalan sebelum senyap, lidahnya sibuk mengikuti kalimat berikutnya. Ia diberi peringatan untuk tidak perlu tergesa-gesa karena semua ayat akan me¬rasuk ke dalam hati, Allah berjanji akan memelihara Al-Qur'an sepanjang masa.

5. Silih Berganti Membaca Al-Qur'an Bersama Malaikat Jibril

Dalam memelihara ingatan Nabi Muhammad secara konstan, Malaikat Jibril berkunjung kepadanya setiap tahun. Hal ini dapat dilihat dalam hadith-hadith berikut:
• Fatima berkata, "Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan Al-Qur'an padaku dan saya membacakannya sekali setahun. Hanya tahun ini la membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur'an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain ke¬cuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat."38
• Ibn ‘Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad berjumpa dengan Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan hingga akhir bulan, masing-masing membaca Al-Qur'an silih berganti.39
• Abu Huraira berkata bahwa Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril mem¬baca Al-Qur'an bergantian tiap tahun, hanya pada tahun kematiannya mereka membaca bergantian dua kali.40
• Ibn Mas'ud melaporkan serupa dengan di atas, dengan tambahan, "Mana¬kala Nabi Muhammad dan Malikat Jibril selesai membacanya, lalu mem¬beri giliran saya membaca untuk Nabi Muhammad dan beliau memberi penghargaan akan keindahan bacaan saya."41
• Nabi Muhammad, Zaid bin Thabit, dan Ubayy bin Ka'b membaca secara bergiliran setelah sesi terakhir dengan Malaikat Jibril.42 Nabi Muhammad juga membaca di depan Ubbay dua kali dalam tahun kematiannya.43
Tiap hadith di atas memberi penjelasan bacaan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad dengan menggunakan istilah Mu'arada.44
Tugas Nabi Muhammad terhadap wahyu teramat padat: beliau sangat instrumental dalam penerimaan ketuhanan (divine reception) sebagai pe¬ngawas ketepatan kompilasi, memberi keterangan yang diperlukan, pemacu masyarakat luas dalam pengenalan dan penyebarluasan, dan sebagai mahaguru para sahabat. Tentunya Allah tidak perlu turun ke bumi menjelaskan ayat ini dan hal itu dengan keterangan, ' adalah tugas Kami untuk menjelaskan "bukan¬nya, "ini tugasmu Muhammad untuk memberi penjelasan," berarti Allah mem¬beri letigimasi sepenuhnya akan kefasihan Nabi Muhammad pada seluruh ayat¬ayatnya, bukan melalui perkiraan, melainkan sebagai inspirasi Allah sendiri. Adalah sama benarnya dalam masalah kompilasi AI-Qur an.
Demikian pula setelah menghafalnya, tugas membaca, kompilasi, pengajaran, dan penerangan menyatu dalam tugas utama sepanjang kenabian, tugas yang beliau laksanakan penuh kesetiaan mendapat persetujuan Allah swt. dalam upaya yang ia lakukan. Perhatian utama dalam bab-bab mendatang mencakup tiga masalah penting yang pertama, antara lain, penjelasan tentang wahyu, literatur sunnah Nabi Muhammad di mana keseluruhannya me¬rupakan penjelasan Al-Qur'an, serta penyatuan beliau terhadap seluruh ajaran ke dalam praktik kehidupan sehari-hari.

6. Beberapa Catatan tentang Klaim-Klaim Orientalis

Beberapa penulis dari kalangan orientalis membuat teori miring tentang Al-Qur'an. Noldeke misalnya, menganggap bahwa Nabi Muhammad pernah lupa tentang wahyu sebelumnya, sedang Rev. Mingana menegaskan bahwa Nabi Muhammad maupun masyarakat Muslim tidak pernah menganggap Al-Qur'an secara berlebihan, kecuali setelah meluasnya negara Islam. Mereka, sekurang-kurangnya mempunyai pikiran bahwa kemungkinan ada gunanya memelihara ayat-ayat Al-Qur'an bagi generasi mendatang. Melakukan pen¬dekatan terhadap permasalahan yang ada dari sudut pandang akal semata ada¬lah tidak cukup untuk menolak anggapan itu.
Sebenarnya pendekatan logika seperti ini terlepas apakah seseorang percaya bahwa Muhammad seorang Nabi atau tidak, dengan segala caranya beliau tetap akan berbuat semampu mungkin mempertahankan apa yang dianggap sebagai kalamullah. Jika beliau seorang rasul sungguhan, per¬masalahan akan semakin jelas: pemeliharaan kitab Al-Qur'an merupakan tugas suci, seperti telah kita sebut sebelumnya, Kitab suci Al-Qur'an merupakan mukjizat terbesar dan pertama yang diturunkan dengan bukti bahwa tak ada orang lain yang menulisnya. Maka, menolak mukjizat ini dengan melihat adanya bukti nyata bahwa beliau sebagai Nabi Allah adalah sikap seorang jahil.
Tetapi apa yang mungkin terjadi jika misalnya, sekadar alasan dalam perdebatan, Muhammad pura-pura mengaku nabi atau katakanlah Al-Qur'an sebagai rekayasa beliau, adakah beliau mampu menghasilkan sesuatu yang berlainan dari yang ada sekarang? Tentu saja tidak: beliau akan tetap mem¬pertahankan keyakinan. Karena melakukan hal yang sebaliknya berarti peng¬akuan terhadap penipuannya. Tak akan ada pemimpin setinggi apa pun yang akan mampu membayar kesalahan yang teramat fatal.
Apakah seseorang menelantarkan Muhammad dalam kelompok nabi ataupun berpura-pura, perilaku perbuatannya terhadap Al-Qur'an tampaknya telah mengundang sikap cemburu pihak lain. Teori apa pun yang menganggap akan adanya sedikit perbedaan sama sekali tak dapat diterima akal. Jika seorang ahli teori mengajukan rasa ketidakpuasan penjelasan mengapa Nabi Muhammad bertindak sangat mengenaskan dan mengorbankan kepenting¬annya demi perintah Allah, maka teori itu tidak lebih dari cerita yang tidak berdasarkan pada fakta.

7. Kesimpulan

Hafalan, pengajaran, rekaman, kompilasi, dan penjelasan: kesemuanya, seperti telah kita demonstrasikan, merupakan tujuan utama dari misi Nabi Muhammad dan daya tarik Al-Qur'an an yang orang-orang kafir pun selalu mencuri-dengar dengan penuh perhatian. Dalam bab-bab berikut kami akan menjelaskan lebih mendalam lagi sikap kehati-hatian Nabi Muhammad dan masyarakat Muslim tempo doeloe memberi keyakinan bahwa Al-Qur'an muncul dan beredar dalam bentuknya yang asli tanpa perubahan. Sebelum halaman ini kita akhiri, mari kita alihkan mata kita ke zaman sekarang guna mengadakan taksiran mengapa Al-Qur'an berhasil diajarkan di masa kita. Umat Islam sedunia berjalan melalui satu periode yang amat suram dalam sejarah, suatu masa di mana harapan dan keimanan tampak begitu sulit tak menentu dari hari ke hari. Banyak umat Islam dengan jumlah yang tak terhitung-ratusan ribu dalam kelompok usia, jenis kelamin, dan benua yang komitmen menghafal Al-Qur'an seluruhnya. Bandingkan kitab Injil yang diterjemahkan seluruhnya maupun sebagian ke dalam ribuan bahasa dicetak dan dibagi-bagi dalam jumlah yang amat bear dengan dana yang dapat menempatkan negara-negara dunia ketiga merasa malu meliriknya. Dengan upaya ini, kitab Injil boleh dianggap laris di mana banyak orang berminat membeli, akan tetapi hanya segolongan kecil yang berminat membaca.45 Sikap masa bodoh berjalan lebih jauh dari yang mungkin seseorang dapat bayangkan. Pada tanggal 26 Januari tahun 1997, harian The Sunday Times menurunkan hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang koresponden, Rajeev Syal dan Cherry Norton tentang Sepuluh Perintah Tuhan. Secara random jejak pendapat dari dua ratus ribu anggota pastor Kristen Anglican mengungkap bahwa dua pertiga dari pendeta wakil Paus Inggris tidak dapat mengungkapkan isi kandungan sepuluh perintah tuhan. Hal ini bukan saja terjadi pada orang Kristen biasa, melainkan para pendetanya. Moralitas dasar orang Yahudi dan Kristen tidak lain sekadar gugusan kata-kata dalam kertas sedang Qur'an di pihak lain, dihafal seluruhnya oleh ratusan ribu, diterjemahkan ke dalam lebih kurang 9000 baris.46 Gambaran lebih terang tentang pengaruh yang mendalam dari Al-Qur' an dan keberhasilan misi pendidikan Nabi Muhammad tidak dapat diterka oleh siapapun.



Endnotes:

1. Lihat kutipan pada permulaan bab-bab ke-14 dan 15.
2. Qur'an, 52: 35.
3. Qur'an, 6: 102.
4. Qur'an, 95: 4.
5. Qur'an, 112: 1-4
6. Qur'an, 39: 53.
7. Qur'an, 4: 48.
8. Qur'an, 51: 56.
9. Hal ini dijelaskan dari hadith Nabi yang berbunyi, "Tiada seorang pun yang lahir namun diciptakan pada sifat yang sebenarnya (Islam). Adalah kedua orang tua yang membuatnya menjadi Yahudi atau Kristen atau Majusi..."(Muslim, Sahih, diterjemahkan ke dalam Bahsa Inggris oleh Abdul Hamid Siddiqi, Sh. M. Ashraf, Kashmiri Bazar - Lahore, Pakistan, hadith no. 6423).
10. Qur'an, 17:15.
11. Qur'an, 21:25
12. Qur'an, 26:108. Lihat juga pada surah yang sama pada ayat-ayat seperti no. 110, 126, 131, 144, dan 150.
13. Qur'an 2: 129
14. Qur'an 33: 40.
15. Qur'an 34: 28.
16. Qur'an 21:107.
17. As-Suyuti, al-Itqan, i: 117.
18. Banyak kejadian yang dapat dijelaskan namun tidak dapat dipahami seluruhnya oleh seseorang dengan pengalaman yang terbatas tak akan mungkin tahu caranya. Contoh sederhana seperti menjelaskan sebuah daratan tanah dan tentang wama pada seorang buta atau menjelaskan suara nyanyian burung pada mereka orang budeg. Mereka mungkin saja memahami beberapa penjelasan, akan tetapi tidaklah seluruhnya seperti seseorang yang diberi pendengaran dan penglihatan. Demikian juga penjelasan tentang wahyu dan apa yang dirasakan oleh Nabi Muhammad saat menerimanya pada orang-orang di luar kita, suatu pemahaman di luar jangkauan otak kita.
19. Al-Bukhari, Sahih, Ba'd al-Wahy: 1.
20. Ibid, Bad' al-Wahy: 1.
21. Muslim, Sahih, Manasik: 6.
22. Qur'an, 4: 95.
23. Al-Bukhari, Sahih, Jihad: 30.
24. Qur'an, 24:16.
25. Qur'an, 4: 95.
26. Pada halaman berikutnya saya akan melihat ke belakang sejenak berhubungan beberapa kejadian dari tahun-tahun pertama kerabian. Hat ini berbeda dari pandangan biografi pada hal sebelumnya di mana focus perhatian kita tercurah seluruhnya pada AI-Qur'an.
27. Ibn Hajar, Fathul Bad, viii: 716.
28. Qur'an, 96: 1-5.
29. Qur'an, 73:1-0.
30. Ibn Hisham, Sira, jilid.1-2, hlm. .315-16.
31. Ibn Ishaq, as-Seyr wa al-Maghazi, hlm..205=6.
32. Ibn [shaq, as-Syerwa al-Maghazi, Editor Suhail Zakkar, hlm. 151; Ibn Hisham, Sira,jilid .l¬2, hlm. .270-71.
33. Ibn Hisham, Sira, jilid .1-2, hlm. 373, al-Baladhuri, Ansab, i: 206
34. Qur’an, 2:129.
35. Qur'an, 3: 164.
36. Qur'an, 2: 151.
37. Qur'an, 75: 16-19.
38. Al-Bukhari, Sahih, Fada'il Al-Qur'an, : 7.
39. Al-Bukhari, Sahih, Saum: 7.
40. Al_Bukhart , Sahih, Fada'il Al-Qur'an : 7.
41. At_Tabari, at-Tafsir, i: 28. Sanadnya dianggap lemah.
42. A. Jeffery (ed.), Muqaddimatan, hlm. 227.
43. Ibid, hlm.74; juga Tahir al-Jaza'iri, at-Tibyan, hlm. 126.
44. Mu’rada (khat) dari sumber kata-kata Mufa'ala (khat) yang berarti dua orang terlibat dalam aksi yang sama. Misalnya, muqatala (khat) berarti berkelahi satu sama lain. Oleh karena itu, Ma'arada menunjukkan bahwa Jibril membaca satu kali dan Nabi Muhammad mendengarnya. Demikian pula sebaliknya. Praktik umum seperti ini terns berjalan hingga saat ini. Hanya beberapa di antara para sahabat nabi sebenarnya ada yang ikut serta bersama antar Jibril dan Nabi Muhammad seperti `Uthman (Ibn Kathir, Fadail, vii :440), Zaid bin Thabit, dan `Abdullah bin Mas'ud).
45. Hal ini dapat dilihat pada kutipan Manfred Barthel pada hlm. 329 catatan no. 65.
46. Dalam abad ketiga pertama atau keempat masehi, ordinasi seorang diakonia atau kepastoran menghendaki bahwa calon itu diharuskan menghafal beberapa bagian dari kitab suci mereka, meskipun persyaratan itu berbeda antara satu uskup dengan uskup lainnya. Beberapa tetap ngotot untuk menghafal Kitab Injil Yohannes. Sedang yang lainnya menawarkan satu tawaran antara dua puluh dari Kitab Zabur (Psalm) atau surat-surat Paulus. Ada yang menghendaki lebih agar menghafal kedua-duanya (Zabur dan dua surat Paulus) lht. Bruce Metzger, The Text of the New Testament, hlm. 87, catatan kaki no.1). Persyaratan tersebut berlaku bagi para pemimpin gereja agar menghafal beberapa bagian dari Injil dan surat-surat Paulus.

Share This Article


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar