abiquinsa

Thaharah dalam Pandangan Islam


THAHARAH DALAM PANDANGAN ISLAM

Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Al-Qur’an bukan sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablum min Allah wa hablum min an-nas), serta manusia dengan alam sekitarnya. Untuk memahami ajaran Islam secara komprehensif (kaffah), diperlukan pemahaman terhadap kandungan al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.
Sebagaimana diketahui, al-Qur’an dengan seluruh lafadz-lafadznya diturunkan dalam bahasa Arab kecuali bebrapa kalimat saja yang berasal dari bahasa lain yang telah menjadi bahasa Arab. Dari lafadz-lafadz itu ada yang dikehendaki hakikatnya, majaznya, dan ada pula yang dikehendaki kinayahnya.[1] Usaha untuk menafsirkan al-Qur’an guna memahami makna lafadz-lafadz tersebut telah diupayakan sejak masa Rasulullah Saw. Setiap beliau menerima ayat al-Qur’an langsung menyampaikannya kepada para sahabat serta menafsirkan mana yang perlu ditafsirkan.[2]

Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ)

MUSABAQAH TILAWATIL QUR’AN (MTQ)
Oleh: Rofi'udin, S.Th.I, M.Pd.I

Pada dasarnya, Islam membolehkan dan bahkan dalam hal-hal tertentu boleh dikatakan menganjurkan umatnya supaya mengadakan musabaqah, perlombaan, kompetisi, kontes, dan lain sebagainya selama maksud dan niat serta teknis dan praktik dari kegiatan-kegiatan tersebut tidak melanggar aturan-aturan syari’at, lebih-lebih jika kegiatan-kegiatan tersebut menunjang hal-hal yang diperintahkan syari’at.
Salah satunya adalah jenis kompetisi atau musabaqah dalam bidang al-Qur’an, yakni yang lebih dikenal dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an atau disingkat MTQ. Kegiatan berskala nasional ini dinilai merupakan kegiatan yang di samping mencari bibit-bibit berbakat di bidang al-Qur’an, juga merupakan sarana syiar Islam.

Corak Keberagamaan Jama'ah Tabligh



CORAK KEBERAGAMAAN JAMA’AH TABLIGH
(Studi Kasus Masyarakat Desa Temboro Kec. Karas Kab. Magetan)
Metode Pengumpulan Data: Observasi, Wawancara
Analisis Data: Deskriptif Analistik
Pendekatan: Sosiologi Agama
Waktu Penelitian: Agustus 2005
 
Dalam Islam, terdapat berbagai jenis corak pemahaman ajaran agama. Dilihat dari sisi historisitas, terbukti telah muncul bermacam aliran seperti Ahlussunnah, Syi’ah, Khawarij, Murji’ah, Jabbariyah, Qadariyyah, Wahabiyah, Ahmadiyah, dan lainnya berikut sempalan-sempalannya. Aliran-aliran tersebut terfokus pada persoalan teologis.
Pada persoalan dakwah, muncul gerakan-gerakan yang mengatas-namakan “kembali ke zaman nabi”. Salah satu dari gerakan ini adalah Jama’ah Tabligh Jaullah, yang berkonsentrasi pada dakwah. Dakwah dimaksud bertujuan untuk mengajak masyarakat muslim kembali ke zaman nabi dengan meniru corak keberagamaan dan kehidupan masyarakat muslim zaman nabi.
Tulisan ini bermaksud mendeskripsikan serta berusaha menganalisis pola kehidupan dan corak keberagamaan Jama’ah Tabligh yang berpusat di Desa Temboro Kecamatan Karas Kabupaten Magetan Jawa Timur.

Surat Cinta: Kejujuran Hati


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Syukur tiada terkira dariku pada Allah SWT yang telah memberi udara yang dengannya aku bernafas, memberi air yang dengannya aku mengaliri tubuh, dan memberi segala yang tumbuh dari bumi dan segala yang tercurah dari langit. Sungguh nikmat tak terukur kata-kata, tak terjangkau akal budi, hingga pujian untuk-Nya tak sanggup diterangkan lewat bergetarnya bibir ketika berdoa, atau meledaknya hati ketika bersujud. Semoga nikmat yang kita syukuri menjadikan bertambahnya kesehatan lahir dan batin, sehingga dengannya kita mampu mengenali tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya.

Sanksi dan Ganjaran dalam Bertakwa



SANKSI DAN GANJARAN DALAM BERTAKWA

Kata takwa sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata ini merupakan istilah agama dan telah masuk dalam perbendaharaan bahasa nasional. Bahkan ketakwaan merupakan syarat pengangkatan pejabat-pejabat negara kita.
Dari segi bahasa, kata taqwa berarti “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks keagamaan, “pemeliharaan” tersebut berkaitan dengan “diri atau keluarga” sedangkan “penghindaran”-nya berkaitan dengan siksa Tuhan di dunia ini dan di akhirat kelak. Para ulama seringkali mendefisinikan takwa sebagai “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”. Sayang, definisi ini jarang dijabarkan pengertiannya sehingga menimbulkan kedangkalan pemahaman dan kegersangan penghayatan agama.
Mari kita pertanyakan: “Apa saja isi dan bentuk perintah Allah?”