abiquinsa

Metode Penulisan Tafsir al-Qur'an di Nusantara Abad XVII-XX



METODE PENULISAN TAFSIR AL-QUR’AN
DI NUSANTARA SEJAK ABAD XVII HINGGA XX

Oleh: Rofi'udin, S.Th.I, M.Pd.I

Pendahuluan
Sejarah menunjukkan bahwa perkembangan tafsir al-Qur’an dari masa ke masa terus mengalami kemajuan, baik dalam bidang metodologi, orientasi, maupun materi yang dibahasnya. Kemajuan tersebut sesuai dengan dinamika peradaban umat manusia itu sendiri yang terus berkembang dan bergerak ssuai dengan dinamika kehidupan umat manusia. 
Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam juga tidak ketinggalan untuk terus melahirkan seorang mufassir. Tercatat dalam sejarah bahwa sejak abad ke-16 M, telah muncul upaya penafsiran al-Qur’an. naskah Surat al-Kahfi [18: 9], yang tidak diketahui penulisnya muncul di Nusantara ini. Naskah tersebut diduga ditulis pada masa awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), dimana mufti kesultanannya adalah Syamsuddin al-Sumatrani, atau bahkan ditulis pada masa sebelumnya, yakni pada masa Sultan ‘Alaudin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil (1537-1604), dimana mufti kesultanannya adalah Hamzah Fansuri. Satu abad kemudian muncul karya tafsir Tarjuman al-Mustafid, ditulis Abdur Rouf al-Sinkili (1615-1693) lengkap 30 Juz dan yang sampai kepada kita.

Islam dan Sosialisme



ISLAM DAN SOSIALISME

Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

A.     PENDAHULUAN
Kondisi dunia yang menuju ambang kehancuran akibat dari sistem politik dan ekonomi yang dianut banyak negara, terutama negara maju, merupakan sistem yang menciptakan pola masyarakat yang semakin individualistik.
Dalam dunia yang tengah berada dalam hegemoni kapitalisme ini, guncangan alam semakin menjadi, sehingga kiamat terasa begitu dekat. Di lain pihak sosialisme terus dirundung kebangkrutan di belahan dunia. Maka tidak ada jalan lain untuk mengulur waktu kiamat, kecuali membangun sebuah ideologi alternatif yang sanggup mengubah wajah dunia kepada kondisi yang sejuk, damai, dan berperikemanusiaan.
Islam sosialis menawarkan konsep jalan ketiga sebagai paradigma sistem dan bentuk sintesa terhadap hegemoni kapitalisme dan kegagalan sosialisme tersebut.

"Membaca" Dahlan Iskan

“MEMBACA” DAHLAN ISKAN
Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I


Lagi-lagi, Menteri BUMN Dahlan Iskan, menuai kontroversi. Upayanya melakukan test drive pada tunggangan barunya, Tucuxi, senilai 1,5 milyar rupiah mengalami kecelakaan di Magetan (5/1). Mobil listrik yang diproyeksikan sebagai mobil nasional masa depan itu mengalami masalah pengereman, sehingga Dahlan pun mengambil risiko dengan menabrakkannya pada tebing. Alhasil, mobil itu ringsek, meski sang menteri selamat.
Masalah tidak berhenti di situ. Polemik yang menyertainya kian menambah rumit persoalan, mulai tidak adanya izin pengujian, plat nomor “DI 19” yang palsu, hingga kelayakan pelaku test drive. Pihak polisi hingga kini masih menyelidiki persoalan itu dan Dahlan siap-siap dijerat pasal pelanggaran lalu lintas. Dahlan mengakui kesalahannya dan siap menerima risiko apapun atas kasus yang disebutnya sebagai “demi ilmu pengetahuan”.
Tulisan ini tidak bermaksud memperpanjang polemik atau berupaya mendudukkan Dahlan Iskan sebagai pesakitan, seperti kecenderungan media akhir-akhir ini. Juga bukan berarti pembelaan atas tindakan sang menteri yang dinilai keluar dari “pakem” seorang menteri. Tulisan ini hanya berupaya “membaca” Dahlan Iskan dari sisi humanisnya, baik karakter maupun motivasi tindakannya yang unik.

Berjilbab: Menunggu Hidayah?


BERJILBAB: MENUNGGU HIDAYAH?
Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar cerita unik dari seorang PPAI, Pak Mukmin namanya. Katanya, salah seorang GPAI perempuan di sebuah SD di Kecamatan Sukomoro tidak berjilbab. Saya terhenyak dan terdiam, sambil berusaha memahami ironi tersebut. “Guru agama? Tidak berjilbab? Yang benar saja, Pak?” tanya saya.

Pencegahan Bahaya HIV/AIDS dalam Perspektif Islam



PENCEGAHAN BAHAYA HIV/AIDS DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

A.     Latar Belakang
Satu Desember sudah sejak tahun 1998 diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Peringatan Hari AIDS Sedunia berawal dari Pertemuan Puncak Menteri-menteri Kesehatan dari 148 negara yang tergabung dalam WHO untuk Program Pencegahan AIDS pada 1 Desember 1988 di London, Inggris.
Sampai sekarang, AIDS masih menempati peringkat keempat penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut WHO (2009) jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 33,4 juta jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, kasus HIV/AIDS ditemukan pertama kali tahun 1986 di Bali. Kementerian Kesehatan RI memperkirakan, 19 juta orang pada 2010 berada pada risiko terinfeksi HIV. Adapun berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen. (Download Versi Ms. Powerpoint)